PANGUDARASA – DARI MEDIA JADUL SAMPAI MEDIA TERKINI

mediaJakarta, nglarastenan – Sosial media saat ini identik dengan jejaring sosial on-line (internet). Padahal kan media untuk berinteraksi, saling berbagi informasi itu banyak banget, bahkan dari jaman setelah flinstone sudah ada, tepatnya jaman kenthongan gigit jari (gak nyammbung kan? egp deh).

Penulis ngalamin sih masanya kenthongan sebagai alat komunikasi, habis kenthongan ada interkom dimana alatnya dibuat sendiri saking kreatifnya. Interkom ini untuk mensiasati harga handytalky (HT) pada masanya yang cukup mentereng dan langka (seperti bawang saat ini). Nah, ditahun awal 90an, saat masih sekolah cuman di kasih pelajaran teknologi informasi, dimana hanya mempelajari bahasa pemrograman tanpa melihat fisik komputer, bahasa yang isinya kode-kode yang sampai saat ini nggak ngerti.

Akhirnya entah tahun berapa tepatnya mulai tahu seperti apa sih internet itu? Gumun, itu pertama kali saat melihat alat komunikasi ini. Sekitar tahun 1994/5 punya account email, kalau tidak salah hotmail.com. Dan dengan berjalannya waktu, muncul jejearing sosial untuk komunikasi jarak jauh yang berupa software untuk chatting, yaitu MiRC.

MiRC adalah salah satu produk boomingnya dunia internet di Indonesia saat itu. Jaringan pertemanan sampai dengan cerita cinta terjadi disana. Dari seluruh penjuru dunia yang tiada batas waktu, kecuali jaringan kabel optik pernah putus di batam atau mana getu.

Saya masih kebayang bagaimana layar monitor yang masih berupa tabung dan dengan dimensi tidak lebih dari 14″ bisa di isi puluhan window yang kecil-kecil.

Setelah MiRC berturut-turut muncul sosial media lain, dari yang sederhana sampai dengan yang canggih, antara lain: Yahoo Messenger (YM), Friendster (FS), Facebook (FB), Twitter, Skype, Whatsup, dll. Dari yang cuman nulis kata-kata ngibul sampai video seperti Youtube yang cabul.

Selain dunia internet dunia telepon tanpa kabel juga maju cukup pesat. Ditahun 90an pula telepon tanpa kabel masuk ke Indonesia (yang penulis tahu), dan waktu itu pernah membelikan bos HP sebesar HT, dan waktu itu harganya 8 juta satu buah. Dengan delapan juta jangan berharap dapat fasilitas smart seperti saat ini, karena hanya bisa untuk berkomunikasi secara voice (suara).

Baru 90an akhir dunia telepon tanpa kabel mulai ada kemajuan, selain bisa untuk bertelepon alat ini sudah mulai bisa untuk berkirim pesan (SMS). Ternyata dengan adanya SMS atau telepon ini mengundang para penjahat untuk mendapatkan uang dengan cara tipu-tipu dengan sms palsu (berita bohong) dan iklan spam. Bahkan suatu ketika ada yang ibunya tertipu dengan mengatakan bahwa anaknya terkena musibah kecelakaan dan harus membayar uang dengar cara transfer. Si penjahat juga telah meminta mematikan nomer telepon anak korban dengan seribu lebih alasan, agar bila si orang tua konfirmasi tidak bisa tersambung dan akhirnya panik.

Awal tahun 2000an muncul teknologi baru dengam menyematkan camera di dalam telepon selullar. Dulu waktu masih bujang selalu update hp, setiap ada yang baru pasti update, bahkan baru beli dua minggu pun terpaksa ganti karena ada model baru. Kalau tidak salah ingat hp berkamera pertama muncul di tanah air seri 3 sekian dari salah satu merk terkenal diwaktu itu (makanya saat ini diledekin sama temen-teman karena hpnya jadul).

Dalam dua dekade dunia perteleponan dan komukasi tanpa kabel sangat pesat, baik hardware maupun software. Setelah tahun 2000an booming selullar messenger yang disemat di salah satu merk telepon ternama saat itu, dan sampai saat ini masih banyak di manfaatkan oleh pengguna di tanah air (sampai saat ini sort message ini aku nggak ngerti, gk pernah punya). Beberapa pabrikan ternama juga terus mengembangkan selullar degan spek yang mentereng dengan mesin yang ngebut untuk browsing, atau mendukung sosial media online yang ada.

Friendster yang saat itu lumayan maju dengan banyak fitur, kalah bersaing dengan munculnya Facebook. FS dan FC ini menurut saya sebelas dua belas, cuman FS tidak seberuntung FB. Muncul kemudian sosial media yang sederhana (twitter) dengan karakter huruf di message yang terbatas. Muncul lagi sosial media untuk berbagi foto seperti Instagram. Instagram yang dulunya eksklusif hanya di merk gatget tertentu akhirnya di akuisisi oleh facebook dan akhirnya dapat digunakan secara umum.

Dunia komunikasi lain yang tidak lekang oleh waktu tentu dunia broadcasting (penyiaran), khususnya lagi radio. Radio yang dulunya hanya bisa di nikmati secara konvensional yang dipancarkan melalui frekuensi, saat ini juga telah booming radio dengan memanfaatkan jaringan internet dan sering disebut ‘radio streaming’, seperti Radio Gunung Gandul Link Wonogiri. Radio streaming ini tidak terbatas oleh jangkauan frekuansi, namun dapat dinikmati dari penjuru planet bumi asal ada jaringan internet.

Dengan majunya berbagai teknologi informasi, penulis berharap masih ada slot untuk pusaka budaya dari masing-masing daerah agar tidak tergerus oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa ketimuran, wa bil khusus karakter bansga Indonesia dan baru kebakaran jenggot (kenapa harus jenggot ya?) setelah diklaim bangsa lain. Penulis berharap, anak cucunya masih bisa mengenal tokoh Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) yang merupakan hasil karya besar para pujangga asli bangsa Indonesia.

Khawatir pasti ada, karena mudahnya informasi dan hiburan yang dinikmati anak cucu kita, cerita adiluhung yang kita punya hilang dan digantikan tokoh-tokoh seperti sinchan yang ngeyelan, atau pun nobita yang hanya bermimpi saja. Dulu pernah ada Ria Jenaka, juga si Unyil, meski si unyil telah bangun dengan setting baru namun untuk seri budaya negeri seperti punakawan tadi malah hilang. Harapanya streaming radio dapat menjembatani menjadi penyelamat kebudayaan asli Indonesia. end.

PUSAKA TEMBANG – MANISING TRESNO

lovedasar ayu, angujiwat
lencir kuning
werna lir salaka
rikma ngemak tur panjang
netra mblalak den tesmaki tambah patut
duh nimas intening dasih

sasolahe milangoni
eba seneng yen nduweni
nalika biyen ketemu
dek semana sumedhot atiku
peni-peni busanane
nyungging esem aduh manise
mustikane para kenya
isih muda ngujiwat prasaja

rasa tresna
tuwuh ana jroning atiku
aku kesengsem
marang manise tresnamu

Hamung siji panyuwunku,
janjimu tansah tak tunggu
aja nimas mbalenjani,
sangu urip bebarengan iki

==0OOO0==

mbok menawa werdine tembang ing ngemu teges, yen ta ana kenya kang sulistya warnane, kang negsesmake, lencir kuning pawakane nganti emba salaka warnane. Rikmane memakngembang bakung lan dawa, netrane katon blalak-blalak yen to ngacem kacatingal (kacamata) tambah ngresep.

opo kang dadi solah bawane tansah nengsemake, mendah senenge lan bungah yen bisa nyandhing, nggarwa, karonsih marang kenya mau. kelingan nalika sepisan ketemu, tresnane wus tuwuh, kanthi pengagem, busana kang becik, yen meesem pahit madu , wanita kang dadi kembange kahanan, dasar isih timur, nengsemake lan tindak tanduke prasaja (sederhana, apa adanya).

ngawuningani kabeh kahanan mau, banjur tuwuh rasa tresna, lan kesengsem marang kenya mau.

mung siji sing dadi pangaep-arepe, nuli nunggu janji ing nalika semana, aja mung nganti lamis amrih bisa kanggo sangur urip bebrayan pungkasane.

hmmm….. pangrasaku sing nganggit sekar mau lagi ketaman asmara, wuyung.

PUSAKA HUMOR – BEDA MASA KINI DAN MASA LALU (JADUL)

jadulJakarta, nglarastenan – Ada istilah JADUL, yang artinya jaman dulu, kuno, ketinggalan jaman. Orang sering bercanda dengan mengatakan, “jadul lu”. Jaman dulu tidak banyak sarjana di negeri ini, dan sekolah pun harus jalan kaki cukup jauh. Hanya segelintir orang yang bisa kuliah, namun dipastikan yang kuliah punya kualitas yang cukup baik saat itu, apalagi kampus jumlahnya terbatas, jadi penerimaannya berdasarkan kualitas paling baik.

Bandingkan dengan masa kini, atau masa sekarang! Kampus banyak, dimana-mana ada, biaya kuliah juga tinggi, dan mahal buat ukuran saya. Jaman sekarang sudah maju, modern dan banyak orang yang melek pendidikan, tapi buktinya apa? Tulisan anak-anak sekolah jaman sekarang susah dibaca, bahkan sudah malas nulis memakai tangan, dan cenderung ngerusak bahasa.

Jaman dulu disekolah ada pelajaran menulis latin, menulis secara rapi dengan huruf yang disambung-sambung, bahkan sampai ada lombanya. Lha sekarang coba kita tengok, tulisannya saja susah dimengerti. Jaman dulu membuat lamaran kerja wajib ditulis dengan tangan yang rapi, contoh:

Kepada YTH.
Kepala Personalia
PT. Apa Saja Jadi TBK.
Jakarta

Dengan hormat,

Saya yang bertandatangan dibawah ini :

Nama : Drs. Tumenggung Brahma Kumbara
Tempat, Tanggal Lahir : 27 Maret 1970
Alamat : Jl. Kentring Manik No. 100, Alas Kethu, Wonogiri
Pendidikan terakhir : Sarjana

Dengan ini mengajukan surat permohonan untuk bekerja di perusahaan Bapak/Ibu sebagai apa saja, yang penting gajinya besar.

Saat ini saya memiliki pendidikan strata satu (sarjana) yang berkorelasi dengan pekerjaan terkait, dan memiliki sedikit pengalaman sebagai manajer keuangan di perusahaan pemancingan yang terkemuka.

Dengan surat permohohan ini, saya menyatakan siap untuk memberikan waktu dan tenaga apabila di perlukan, dan besar harapan saya untuk mengikuti tes seleksi dan wawancara. Terima kasih.
Hormat Saya,
Drs. Tumenggung Brahma Kumbara
Lampiran :
Daftar riwayat hidup
Foto ID (KTP)
Foto-copy ijazah terakhir

Kan bagus, enak dibaca dan mudah dimengerti. Coba kalau anak sekarang buat lamaran, udah males nulis pakai tangan, lamarannya pun di kirim lewat email dengan tulisan yang susah dimengerti, dan hurufnya saja dibikin warna pink, katanya gaul.

K3p4da YTH.
K3p4l4 P3r50n4l14
PT. Apa 54j4 J4di TBK.
J4k4rta

D3n64n h0rm4t,

5ay4 yan6 bertandat4n6an d1bawah 1ni :

N4m4 : Drs. Tum3n66un6 Br4hm4 Kumb4r4
T3mpat, T4n664l L4h1r : 27 Maret 1970
4l4mat : Jl. K3ntr1n6 M4n1k No. 100, 4la5 K3thu, W0n06ir1
P3nd1d1k4n ter4kh1r : 54rj4n4

D3ngan in1 men64jukan 5urat p3rm0h0n4n untuk b3k3rj4 d1 p3ru54h4an B4p4k/1bu 5eb464i 4p4 5aj4, y4n6 pent1ng 6aj1ny4 be54r.

544t 1n1 54y4 mem1l1ki pendid1k4n 5trata 54tu (s4rj4n4) y4n6 berkor3l451 d3n64n p3kerj44n t3rk41t, d4n m3m1l1k1 53d1k1t p3n64l4man seba64i m4n4j3r k3u4n6an d1 peru54h4an p3manc1n64n y4n6 t3rk3muka.

Den64n sur4t p3rm0h0han ini, 54y4 m3ny4t4kan 514p untuk m3mb3rikan w4ktu d4n t3n4g4 ap4b1l4 d1 p3rlukan, dan b354r h4r4p4n s4y4 untuk m3n61kut1 t35 selek51 d4n w4wanc4r4. T3r1ma ka5ih.
H0rm4t Saya,
Dr5. Tum3ng6un6 Brahm4 Kumb4r4
L4mp1ran :
D4ft4r riw4yat h1dup
F0to 1D (KTP)
F0t0-c0py ij424h ter4kh1r

Nah bandingkan pelajar jaman dahulu sama pelajar jaman sekarang! Anak sekarang tulisannya saja tidak karuan, ongkos dan uang jajan saja yang minta banyak, padahal jaman dulu ke sekolah gak pake uang jajan, ke sekolah cukup bawa ubi rebus, kalau pun jajan paling beli permen ndog cecak.

Saya saja yang pernah ngalamin waktu kecil itu paling enak, gak seperti sekarang. Kalau sekarang bayaran sekolah anak gak ada, pusing mikirin untuk mencarinya. Jaman dulu waktu saya masih kecil gak perlu repot-repot mikirin, bayaran sekolah gak ada tinggal minta sama orang tua, kalau gak di kasih tinggal nangis. Coba sekarang anak minta duit, masak kita mo nangis? Tetep, enakan jaman dulu hidup itu masbero, mbak sis! Ya gak???? end

PANGUDARASA – PULSA, NARKOBA, PENJARA DAN GULA (KEBUTUHAN PRIMER)

JUALAN BISNISJakarta, nglarastenan – Akhir-akhir ini kita masih disibukkan oleh berbagai berita di media online, media cetak, dan juga media elektronik. Apa fokus dan headline berita tersebut yang paling sering? Tidak jauh dari hal-hal tersebutlah.

Pulsa, banyak tips marketing yang untuk menjaring konsumen dengan ketersediaan yang melimpah. Narkoba, tidak sedikit yang sudah menjadi korban, dari orang awam, artis hingga pejabat. Penjara, sama saja. Tidak sedikit pejabat publik yang masuk hotel prodeo karena tersangkut narkoba, juga tentunya korupsi yang setiap hari menghiasi televisi. Gula, seperti kebutuhan pokok lainnya beras, kedelai, bawang, daging dan cabai.

Dahulu kebutuhan pokok ini cukup transparan, seperti jamannya Pak Harmoko masih menjadi menteri penerangan. Setiap habis sidang kabinet, atau setiap jam 20.00 malam harga bawang, cabai maupun kebutuhan pokok lainnya selalu disiarkan secara transparan, jadi kemungkinan ada kartel kecil. Sekarang? Harga bawang hari ini lima puluh ribu, bisa jadi besok seratus ribu. Meski Pak Harmoko menyampaikan hanya sesuai petunjuk Bapak Presiden, namun terbukti tidak ada kartel kebutuhan pokok saat itu.

Korupsi, narkoba dan kong kalingkong dalam perdagangan komoditi pangan itu melanggar undang-undang, dan para pelaku sangat mungkin dan sangat yakin tahu akan hal itu. Yang jadi pertanyaan, mengapa mereka tetap melakukan hal itu? Kita bisa menarik benang merah, putih, biru (kasihan kalo cuman benang merah doang, cuy!), diantaranya tentu adanya kesempatan untuk melakukan itu.

Seperti petuah dari bang napi, “kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelaku, tapi kejahatan bisa terjadi karena ada kesempatan, waspadalah!“.

Peribahasa jawa mengatakan, “ojo cedhak kebo gupak”. Maksud dari peribahasa tersebut adalah, janganlah kita bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, karena kemungkinan besar kita akan kecipratan, resiko dari tindakan yang melanggar hukum, etika atau sesuatu yang buruk. Kalo kita bergaulnya dengan ustad, santri di masjid tentu perilaku kita akan santun, dan bila kita bergaulnya dengan para bandar narkoba, efek paling dekat adalah memakai dan yang menghancurkan sudah jadi pemakai, sakaw (ketergantungan) yang akhirnya kita melakukan pengedaran (jual beli).

Sama juga dengan korupsi. Kita sering berkoar-koar, berteriak anti korupsi, hapus karupsi dari negeri ini. Namun begitu kita kenal, bergaul dengan para koruptor dan ada kesempatan maka tidak menutup kemungkinan kita akan melakukan itu. Na’udzubillahi mindzalik.

Lalu, apa hubunganya dengan kebutuhan pokok masbero, mbaksis? Hubungannya, bahan pokok langka, ketersediaan barang tidak menentu dan harganya juga fluktuatif, naik turun tidak karuan yang membuat para pedang, maupun konsumen sengsara.

Bisnis kebutuhan pokok sudah tidak menarik, karena ketersedian bahan yang langka. Bertani juga tidak menggiurkan, karena begitu panen raya harga tersungkur oleh para kartel. Bisnis pulsa, ketersediaan melimpah, profit kecil namun kebutuhan terbatas. Yang menggiurkan tentu bisnis narkoba, barang mahal, profit gede penikmat melimpah. Jadi koruptor, tidak perlu berkeringat, cukup tandatangan dan katebelece, harta melimpah, mobil mewah, dipuja seperti raja.

Namun saya tetap pada pilihanku sendiri, aku memilih waspada, dan selalu ingat akan rejeki dari Nya, bersyukur atas apa yang kumiliki. Ikut ngawur, dan ngedan dengan keadaan yang sedang berlangsung bukanlah pilihan tanpa resiko. Percayalah sobat, kebenaran akan datang membawa berkah. Amiiin.

PANGUDARASA – BELI BAWANG TAK SEMUDAH BELI PULSA

jual pulsaJakarta, nglarastenan – Berkomunikasi jarak jauh saat ini sudah bukan hal yang aneh. Kalau dulu menggunakan telepon genggam dianggap bisa menaikkan pamor (prestige), saat ini alat komunikasi ini sesuatu hal yang wajar, bahkan mungkin bisa melebihi kebutuhan utama.

Dikendaraan umum kita jumpai banyak orang cuek, acuh dengan keadaan sekelilingnya, begitupun dengan para pengendara, tanpa ekspresi sibuk dengan gatget, hp yang sedang menemaninya. Tidak salah sih karena emang punya sendiri, tapi menjadi salah jika menggunakan telepon genggam sambil berkendara, seperti kirim sms sambil berkendara dan lebih-lebih sedang naik kendaraan roda dua.

Hebatnya lagi, saat ini untuk membeli pulsa sangat-sangatlah mudah dan harganya terus menurun dengan iming-iming bonus pula.

Bila saat ini untuk mendapatkan pulsa telepon sangat mudah, di pinggir-pinggir jalan, bahkan bisa phone banking, internet banking dan lain-lain. Namun tidak demikian dengan membeli bawang, dan cabai saat ini. Bawang dan cabai harus di beli ke pasar, atau nunggu pedagang sayur keliling (itu pun kalo bawa) dan beli bawang atau cabai tidak semudah beli pulsa karena langka dan mahalnya.

Pulsa seratus ribu bisa dipakai satu bulan dengan masa tenggang satu bulan atau lebih, tapi beli bawang atau cabai saat ini dengan seratus ribu hanya cukup untuk 2 minggu tanpa masa tenggang. Belum lagi ketersediaan barangnya. Pulsa sangat melimpah dan bisa didapat 24 jam sehari tanpa kendala yang berarti, tapi bawang dan cabai…. hmmm meski ada duit, barangnya pun belum tentu tersedia.

tukang sayurApa iya nanti suatu saat tukang sayur keliling jualan pulsa karena sayuran mahal dan langka? Kedok para penipu lewat SMS yang tadinya “mama minta pulsa” sudah berganti “mama minta bawang”, karena harga bawang lebih menjanjikan dan tentu susah didapat.

Karena melimpahnya pulsa di tanah air, maka tidak sedikit tawaran untuk menjadi agen pulsa seperti contoh,

DEMANG CELL, cari agen jual pulsa semua operator:
Harga:
P.5=4500
P.10=8500
dst.

Tukang sayur saja sudah mulai tidak berani dagang bawang dan cabai, karena harganya yang selangit, apalagi harus jadi agen. Modal besar, barang langka dan kalau tiba-tiba harga terjun modal akan abis, dan hanya bisa menangis (meratapi).

Jaman maju, sambel bawang masak iya mau diganti sambel pulsa? Tidak, mungkin kan? Bukan nikmat yang didapat, bisa-bisa tuh bibir ndower tergores voucher pulsa yang patah.

Bisa saja suatu nanti bawang dan cabai ini masuk museum (saking langkanya lho) dan hanya kaum ‘the have’ saja yang bisa menikmati kuliner dengan bumbu bawang dan cabai (saking mahalnya lho). Kaum pinggiran, wong cilik yang beras saja nunggu raskin turun, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti makan daging tanpa bumbu (kalah deh macan), dan bisa saja suatu saat nanti harga gas ikut melambung, dan orang-orang makan beras mentah (udah mahal, impor dan harus dimakan mentah. ayam kebagian apa dong?).

Bisnis pulsa, barang melimpah profit kecil tidak bergengsi. Bisnis bawang dan cabai, untung besar (kalo lagi mujur), barang langka dan tidak tersedia. Bisnis makanan olahan makanan nusantara sepi, karena masakannya terasa hambar.

Anda punya cerita sekitar makanan, pulsa, atau apa saja yang membuat sengsara kirim ke redaksi nglarastenan. Bagi cerita yang menarik menurut redaksi, redaksi akan menyediakan barang langka yang sedang memesona berupa satu siung bawang, dan bisa diambil dimeja redaksi dengan membawa kartu identitas yang jelas.

ANGKRINGAN MBAH MO – PREI

bwg-cabeJakarta, nglarastenan – Wengi iki nek dine pengen ngombe wedang jahe ana angkringane Mbah Mo. Aku lan dik Sum wis kansen bakal ngedate ana AMM. Cilaka, jebul angkringane Mbah Mo bengi iki ora dodolan. Golek sisik melik kenapa angkringan legendaris sing wis kebak crita maneka warna banjur prei sawetara. Panggraitaku mbok menawa Mbah Mo lagi mulih kampung, plesir lan liya liyane.

Jebul kleru kabeh, amarga Mbah Mo malah jagongan ana angkringan sing ora bukak mau. Amarga penasaran aku banjur takon marang Mbah Mo apa sejatine.

“Mbah, pripun niki kok mboten dodolan? Wah, tiwas kula wit wau mboten maem”, kandhaku marang Mbah Mo.

“Ealah, Mas Bei, Mbak Sum. Inggih niki mas, kula prei mboten dodolan rumiyin, modale cekak. Lha pripun kabeh rega bumbon mboten mung mundak, kepara ganti rega!” wangsulane Mbah Mo.

“Lha pripun mas, lha kalawingi nalika bawang rong puluh ewu men pas-pasan, lha sakniki ganti rega ngantos seket ewu langkung, dereng niki lombok kangge damel sambel sego kucing regane nggih ngoyak bawang, mas!” Mbh Mo anggone mbacutake sing ngendika.

“Inggih mbah, malah kula kepara dipun dukani Ibu, ‘ora susah masak-masak Sum, mengka tuku wae neng angkringane Mbah Mo apa tuku matengan ana Warung Sriti wae’. Lha enten ngomah niku kabeh sambel lovers je mbah, bingung ta sakniki”, dik Sum anggone nimpali ngendikane Mbah Mo.

“Wah leres ngendikane Mbah Mo, kabeh bumbon ganti rega mbah. Niki wau kula titip rolasan kalih OB sing biasane diparingi sambel kathah men malah mung diparingi kangge pepak-pepak, cirose saniki nek nyuwun sambel kedah tumbas!” wangsulanku.

“Iyo Mas Bei, muga-muga para penggedhe isa menggalih sengsarane wong cilik, rega bumbon lan bahan-bahan isa bali kaya wingi mas!”, pungkasane ature Mbah Mo jagongan bengi iku.

Bengi iku, aku lan dik Sum ora sida wedangan jahe ana angkringane Mbah Mo, amarga angkringane lagi prei merga kabeh bahan lan mbubon ganti rega. Cekake crita, aku lan dik Sum banjur ngabur pengin nyoba Warung Sriti, nadyan rada adoh papane. Ora suwe tekan warung Sriti, banjur aku golek lungguh sing becik kanthi view, pemandangan kang paling edi.

Denmas Gemboel, mangkono diundang. Den Gemboel uga crita yen ta warunge saiki sarwa salah, arep ngundakake rega wong wingi lagi mundak, nek ora diundhaki regane kamangka blanjane wis larang. Bubar mangan ana warunge Den Gemboel aku lan dik Sum banjur mangudarasa, rerasan wong lara sak dawane dalan. Merga bawang lan lombok kabeh padha bingung, ora mung para ibu rumah tangga kepara para bakul kebingunan ngadhepi kahanan kang ora ajeg iki. end

PANGUDARASA – NEGERI SI BENTO

gantungJakarta, nglarastenan – Katanya Indonesia negara AGRARIS, katanya Indonesia negara yang LOH JINAWI, katanya di Indonesia TONGKAT KAYU dan BATU jadi tanaman, mana?

Agraris, emang masig relevan saat ini? Bawang merah aja impor, bawang putih apalagi, kedelai juga beli dari luar negeri, terigu pun demikian. Bawang harganya selangit, cabe harganya meroket, dan cabai kembali membuat ibu-ibu kepedesan karena sekarang mulai langka dan melejit.

Apa bisa negara ini disebut negara agraris, karena semua kebutuhan pokok sehari-hari didatangkan dari luar dengan harga yang membuat wong cilik makin tercekik. Harga bawang lebih mahal dari rendang, harga cabai lebih tinggi dari harga ikan tenggiri. Tapi apa iya makan rendang tanpa bawang?

Bila ada pertunjukan wayang, pasti sang dalang akan memberikan ‘Janturan’, yaitu prolog yang menggambarkan suatu kerajaan, dan ini pula yang digambarkan para seniman untuk negara Indonesia yang LOH JINAWI. Benarkah demikian? Masih relevankah kiasan itu? Mari kita jawab sendiri-sendiri, loh yang berarti subur sudah tidak berlaku di negara yang katanya agraris. Mari kita tengok ke pasar tradisional, mari kita pergi ke retail besar di negeri ini!

Apa yang kita jumpai? Ternyata kita mendapatkan apel Washington, pear Korea, durian Bangkok, jeruk Mandarin, dan lain sebagainya dan sangat sedikit saat ini kita jumpai jeruk brastagi, apel malang atau pun durian petruk. Apakah kata kiasan itu masih relevan, atau memang negara kita sudah tidak subur lagi?

Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman. Hmmm…. saya melihat jauh panggang dari api peribahasa ini. Kenapa beras sekarang impor? Karena banyak sawah yang sudah ditanami rumah. Jadi semakin miris melihat keadaan saat ini yang semakin tidak menentu. Kebutuhan pokok sehari-hari langka, dan kalau pun ada mencekik kantong.

Oh tidak begitu, negara kita ini menuju ke negara maju, modern, industri. Masa, sih? Kok kita telepon selullar saja impor? Kok Mobil saja impor? Dan yang makin miris, batik yang notabene secara de facto dan telah diakui secara resmi oleh organisasi internasional milik Indonesia juga harus impor. Jadi bingung, ini negara apa ya sekarang?

Untuk menunjang negara yang baik, yang terhormat, mandiri tentu diperlukan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang mumpuni. Bila negara ini kaya raya akan sumber daya alam dan tidak di dukung sumber daya manusia yang baik, maka tidak salah kalau yang menikmati adalah orang-orang asing, bangsa asing dan kita tetap menjadi bangsa kuli.

Pendidikan wajib 12 tahun. Apakah cukup hanya 12 tahun? Untuk bersaing kok rasanya agak meragukan hal ini. Tahun 70an banyak sarjana negara tetangga yang belajar di Indonesia, dan sekarang terbalik, banyak pemuda-pemudi negeri ini belajar ke negeri jiran.

Entah, siapa yang salah dan harus bagaimana harus memulai. Apa kita harus belajar demokrasi dulu? Entahlah, demokrasi yang saya lihat di negeri ini membuat hati miris. Demokrasi seperti kepentingan golongan, kelompok atau pun pribadi.

Kalo melihat fenomena saat ini, seperti syair lagu Iwan Fals sepertinya klop, cocok sekali. Maling kelas teri, bandit kelas coro, itu kan tong sampah. Mereka dibawah demokrasi semakin tajam mencengkeramkan kuku-kuku korupsinya, simpanannya. Buktinya banyak para petinggi, pejabat, maupun pimpinan partai terbelenggu dalam kesenangannya, mobilku banyak harta berlimpah, tokoh papan atas, atas segalanya ….asyik.

Tidak seperti maling kelas teri dengan tampang sangar, bandit kelas coro yang penguh tato. Tapi dengan wajah tampan juga banyak simpanan, bisnisnya pun tidak main-main yaitu bisnis jagal, termasuk teman. Persetan dengan orang susah karena yang paling penting asyik, senang.