AYO BANGKIT BANGSAKU

merah putihJakarta, nglarastenan – Entah apa yang sedang terjadi di negeri yang aku cintai ini, negeri yang telah memberiku kehidupan dan cerita penuh makna. Kembali ke masa lalu di tahun 1997, pada saat itu kita sedang ada acara di Hotel Panghegar, Bandung. Pada saat acara workshop sedang berlangsung terdengar kabar di Jakarta sedang rusuh, dan lewat panitia diberitahukan untuk memindahkan mobil yang berpelat merah untuk parkir di belakang, yang agak tersembunyi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan.

Kabar dari Jakarta menyebutkan ada korban di Trisakti dan ada Pompa Bensin yang di bakar, dan ini cikal bakal Indonesia khususnya Jakarta rusuh kemudian terjadilah reformasi. Pulang dari Bandung saya harus mengantar salah satu dosen IPB ke komplek Darmaga, Bogor. Pulang dari Darmaga ke Jakarta perlu perjuangan, karena kita yang awam lewat di Ramayana Bogor, orang menyemut, dan kita yang di dalam mobil hanya berharap dan berdo’a agar semua terkendali dan aman. Setelah mendapatkan pertolongan dari seorang anggota TNI yang juga akan pulang, kita bisa keluar menuju toll Ciawi.

Selama perjalanan selalu monitor radio untuk mengetahui perkembangan yang terjadi, khususnya Jakarta. Mungkin sekitar jam 14.00 mobil keluar di toll Pondok Pinang, dan saya memutuskan untuk turun karena kondisi yang semakin tidak terkendali dan merasa kasihan dengan sopir saat itu. Saya menyetop taksi untuk pulang ke daerah Ciledug, namun tidak ada taksi yang bersedia ke arah tersebut sampai akhirnya ada juga taksi yang berani.

Pulang dengan taksi dari Pondok Pinang sudah sangat ramai, bahkan bisa di bilang caos, karena Hero yang di tanah kusir sudah di bakar. Bahkan di Organon sudah banyak pasukan loreng dengan sejanta ditangan. Akhirnya setelah perjalanan yang mendebarkan saya sampai juga di rumah, kemudian istirahat.

Jam tiga di depan rumah udah sangat ramai, dapat kabar pintu toll Pasar Rebo yang tadi saya lewati udah di bakar masa, bahkan ramayana di Pondok Betung yang saya lewat masih sepi sudah jadi kobaran api, Hero Kreo habis, Tomang Toll supermarket di jarah, dan Ciledug Mall di bakar dengan korban yang tidak sedikit.

Kesokan harinya saya keluar untuk melihat-lihat ke Ciledug Raya, dan yang saya lihat sangat memilukan. Tidak sedikit mobil yang jadi rangka di tengah jalan, bahkan Ciledug Raya gulita saat itu. Dengan kejadian itu saya berfikir untuk mengamankan makanan dan saya langsung membeli beras.

Ajib, gak masuk di akal. Pada saat itu ada orang yang memanggul kulkas dua pintu sambil bernyanyi-nyanyi dengan raut muka bahagia. Heran, kulkas tersebut di panggul sendirian yang jaraknya hampir dua kilometer. Mengenang saat itu sangat memilukan.

Sejak peristiwa itu hampir tiap hari terjadi demo. Sepertinya hampir tidak ada hari tidak ada aktifitas demo. Bahkan pernah suatu kali saya pulang dari daerah Menteng, sesampai di Tosari (depan UOB sekarang) saya harus putar balik mencari jalan lain. Saya putuskan untuk lewat cempaka putih, namun pintu toll tertutup dan akhirnya bisa masuk melalui pintu toll Kebon Nanas dan ini hanya untuk menyerang ke arah selatan agar bisa keluar dari area semanggi, gatot subroto yang sudah tidak bisa bergerak.

Ada rekan mahasiswi yang kerjanya demo mulu, bahkan ini anak kalo siang nongkrong di kantor. Suatu pagi saya harus jalan dari Semanggi menuju kantor di Wisma Dharmala Sakti, dan pagi itu di Benhil sudah sangat ramai, karena jam 08.00 pagi sudah terjadi bakar-bakaran. Bahkan bule di kantor malah mendokumentasikan hal tersebut dan juga ada rekan kantor ikut nonton ke area tersebut. Pagi yang menyeramkan.

Entah kapan tepatnya kejadian itu, tiap hari di suguhi hal-hal yang gak masuk di akal saya. Saya melihat sendiri bagaimana masa berhadap-hadapan dengan petugas di Jalan Sudirman ini. Beberapa kali masa memprovokasi dengan melempar bom molotov ke petugas, namun petugas ini tetap tenang dan berbaris. Entah lemparan ke berapa molotov tersebut mengenai petugas, dan di situ saya bisa melihat orang yang di tembak berlumur darah. Meski dengan peluru hampa namun karena jarak yang begitu dekat saya merasa orang akan terluka juga.

Bukan isapan jembol kalo demo tersebut ada provokatornya, karena saya juga melihat dengan kepala, bagaimana ada orang berboncengan naik sepeda motor membawa batu di dalam karung kemudian batu tersebut di letakkan di depan Le Meridien (Casablanka), dan di tinggal begitu saja (pergi).

Kembali ke euforia saat ini. Dimana sudah 15 tahun berlalu. Entah karena euforia yang berlebih atau apa, sampai sekarang banyak orang yang mengartikan kebebasan seperti tidak berbatas. Kalau era dulu orang tidak berani berbicara jujur dengan diam, namun sekarang tidak sedikit pula orang yang tidak berani jujur dengan memberikan argumentasi yang kontrapoduktif dengan apa yang disampaikan.

Syair Joyoboyo berikut sepertinya sangat pas sekali menggambarkan apa yang terjadi pada saat ini.

polahe wong Jawa kaya gabah diinteri
endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati

banjir bandang ana ngendi-endi
gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
getinge kepati-pati marang pandhita kang oleh pati geni
marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti

Dari syair diatas saya menangkap apa yang terjadi pada saat ini. Manusia saling sikut sana sikut sini untuk mendapatkan kekayaan, kedudukan ataupun kehormatan. Sampai tidak tau mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan tidak sedikit para pemimpin spiritual pun tidak berani mengajarkan kebenaran karena bisa jadi akan menjadi korban dan mati.

Bencana alam terjadi dimana-mana, dan tidak sedikit pula orang yang tidak suka prihatin, laku benar, JUJUR karena takut apa yang menjadi rahasianya terbongkar, entah itu kolusi, nepotisme, dan napsu lain.

Semoga kita selalu mandapatkan lindungan dan kekuatan untuk JUJUR, mengatakan bahwa yang benar itu benar dan berani berkata JUJUR bahwa yang salah tetaplah salah.

“SAK BEJO BEJANE WONG KANG LALI, ISIH LUWIH BEJO WONG KANG ELING LAN WASPADA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s