BOLA ITU BULET, GALAU NIH YE….

varraneJakarta, nglarastenan – Tadi pagi copa del ray memasuki leg ke dua, dimana Barcelona menjamu Real Madrid. Fokus basahan kali ini adalah mengenai taktik dan strategi tim. Entah, sudah berapa kali saya melihat pertandingan antara kedua kesebelasan ini. Cerita sedih, galau, gembira pernah seliweran di hati pasca pertemuan kedua tim ini, dan tak terkecuali pertandingan tadi pagi.

Bukan rela nggak rela, tapi memang Barca dibuat tak berdaya oleh Madrid. Close-up kekecewaan terlihat di menit-menit akhir babak kedua dari Xavi, Iniesta, maupun Fabregas. Dua pertandingan (Milan dan Madrid), permainan Barca jauh dari ekspektasi. Permainan rapat dengan umpan-umpan pendek dengan model triangle (segitiga) tidak begitu kentara, yang sering terlihat adalah long-passing, dan kurang kompak, dimana banyak bassing yang tidak akurat.

Kerinduan saya semakin membucah manakala teringat tiki taka ramuan chef Pep Guardiola sewaktu meracik Barca menjadi tim yang disegani, dan penerus Pep, yaitu Tito. Sepeninggal mas Tito yang sedang menjalai terapi, penyembuhan kankernya ada leader interim (menurut redaksi), yang memimpin okestra Barca kali ini. Namun kemampuannya masih jauh dari mas Pep maupun mas Tito.

Entahlah, apa yang dipikirkan para petinggi club melihat ini. Saya geleng-geleng kepala melihat akurasi passing dan juga keberanin Pique ke depan dalam keadaan on-play (bukan bola mati). Sudah bisa diprediksi dengan permainan seperti itu Barca keok melawan kecepatan pemain Madrid dan juga Milan. Melihat permainan lawan Milan dan Madrid, melihat anak ayam yang kehilangan induknya.

Permainan Madrid yang cukup apik menahan gempuran Barca dan kegigihan dalam meminimalisir pergerakan cukup saya acungi jempol, apalagi Madrid juga punya talenta baru yang cukup menjanjikan pada diri Varrane. Meski belum genap 20 tahun, anak ini memberikan teladan yang baik dan dengan kedewasaan yang mengagumkan mampu menyumbang goal kemenangan Madrid 3-1 dan berhak lolos ke babak berikut dengan agregate 4-2.

Ada satu pemain yang meski belum uzur, tapi sudah senior di tim. Siapa dia? tentu tidak asing bagi kita, siapa lagi kalau bukan PEPE. Meski sudah senior, pepe tidak menunjukan sebagai pemain yang besar apapun argumentasinya. Namun pepe lebih kental sebagai atlet beladiri daripada bermain bola. Simak saja bagaimana pepe tidak menjunjung sportifitas, tapi lebih mengedepankan ego da urakan. Saya menilai permainan pepe ini 80% beladiri, 10% diving dan 10% lagi baru main bola.

Meski saya bukan pendukung Madrid, saya sangat menyayangkan club sebesar madrid memelihara pemain dengan karakter seperti itu. Mungkin pepe ini cocok diduetkan dengan nigel de jong.

Kembali ke permainan, Barca bila tidak jeli dan pemain tidak sadar bukan tidak mungkin Barca tinggal menunggu waktu untuk hancur, apalagi waktu sekarang ini Barca cukup sibuk dengan pertandingan yang cukup berat, dimana di leg kedua liga champion akan menjamu Milan dan pada tanggal 3 Maret juga bertemu Madrid di El Classico.

Semoga cepat sembuh mas Tito, kami menunggumu di depan TIVI untuk membawa kembali Barca yang disegani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s