PANGUDARASA – PULSA, NARKOBA, PENJARA DAN GULA (KEBUTUHAN PRIMER)

JUALAN BISNISJakarta, nglarastenan – Akhir-akhir ini kita masih disibukkan oleh berbagai berita di media online, media cetak, dan juga media elektronik. Apa fokus dan headline berita tersebut yang paling sering? Tidak jauh dari hal-hal tersebutlah.

Pulsa, banyak tips marketing yang untuk menjaring konsumen dengan ketersediaan yang melimpah. Narkoba, tidak sedikit yang sudah menjadi korban, dari orang awam, artis hingga pejabat. Penjara, sama saja. Tidak sedikit pejabat publik yang masuk hotel prodeo karena tersangkut narkoba, juga tentunya korupsi yang setiap hari menghiasi televisi. Gula, seperti kebutuhan pokok lainnya beras, kedelai, bawang, daging dan cabai.

Dahulu kebutuhan pokok ini cukup transparan, seperti jamannya Pak Harmoko masih menjadi menteri penerangan. Setiap habis sidang kabinet, atau setiap jam 20.00 malam harga bawang, cabai maupun kebutuhan pokok lainnya selalu disiarkan secara transparan, jadi kemungkinan ada kartel kecil. Sekarang? Harga bawang hari ini lima puluh ribu, bisa jadi besok seratus ribu. Meski Pak Harmoko menyampaikan hanya sesuai petunjuk Bapak Presiden, namun terbukti tidak ada kartel kebutuhan pokok saat itu.

Korupsi, narkoba dan kong kalingkong dalam perdagangan komoditi pangan itu melanggar undang-undang, dan para pelaku sangat mungkin dan sangat yakin tahu akan hal itu. Yang jadi pertanyaan, mengapa mereka tetap melakukan hal itu? Kita bisa menarik benang merah, putih, biru (kasihan kalo cuman benang merah doang, cuy!), diantaranya tentu adanya kesempatan untuk melakukan itu.

Seperti petuah dari bang napi, “kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelaku, tapi kejahatan bisa terjadi karena ada kesempatan, waspadalah!“.

Peribahasa jawa mengatakan, “ojo cedhak kebo gupak”. Maksud dari peribahasa tersebut adalah, janganlah kita bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, karena kemungkinan besar kita akan kecipratan, resiko dari tindakan yang melanggar hukum, etika atau sesuatu yang buruk. Kalo kita bergaulnya dengan ustad, santri di masjid tentu perilaku kita akan santun, dan bila kita bergaulnya dengan para bandar narkoba, efek paling dekat adalah memakai dan yang menghancurkan sudah jadi pemakai, sakaw (ketergantungan) yang akhirnya kita melakukan pengedaran (jual beli).

Sama juga dengan korupsi. Kita sering berkoar-koar, berteriak anti korupsi, hapus karupsi dari negeri ini. Namun begitu kita kenal, bergaul dengan para koruptor dan ada kesempatan maka tidak menutup kemungkinan kita akan melakukan itu. Na’udzubillahi mindzalik.

Lalu, apa hubunganya dengan kebutuhan pokok masbero, mbaksis? Hubungannya, bahan pokok langka, ketersediaan barang tidak menentu dan harganya juga fluktuatif, naik turun tidak karuan yang membuat para pedang, maupun konsumen sengsara.

Bisnis kebutuhan pokok sudah tidak menarik, karena ketersedian bahan yang langka. Bertani juga tidak menggiurkan, karena begitu panen raya harga tersungkur oleh para kartel. Bisnis pulsa, ketersediaan melimpah, profit kecil namun kebutuhan terbatas. Yang menggiurkan tentu bisnis narkoba, barang mahal, profit gede penikmat melimpah. Jadi koruptor, tidak perlu berkeringat, cukup tandatangan dan katebelece, harta melimpah, mobil mewah, dipuja seperti raja.

Namun saya tetap pada pilihanku sendiri, aku memilih waspada, dan selalu ingat akan rejeki dari Nya, bersyukur atas apa yang kumiliki. Ikut ngawur, dan ngedan dengan keadaan yang sedang berlangsung bukanlah pilihan tanpa resiko. Percayalah sobat, kebenaran akan datang membawa berkah. Amiiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s