PUSAKA SEJARAH – MEMBURU MAJAPAHIT

bendiMojokerto, nglarastenan – Dalam rangka World Heritage Day (Hari Pusaka Dunia), kami bergabung bersama tim dari BPPI, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah Daerah Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto dan Provinsi Jawa TImur, dan lain-lain.

ngelingukHari Pertama:
Dalam rangka Hari Pusaka Dunia Tahun 2013 diadakan Diskusi Budaya Majapahit, di kampung Majapahit (Desa Bejijong), yang diselenggarakan oleh Jaringan Pelestarian Majapahit dan didukung oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Daerah Kabupaten Mojokerto, Balai Pelestarian Cagar Budaya Propinsi Jawa Timur, Sanggar Bhagaskara Majapahit – Indonesia, dan Lembaga Desa Wisata (LADEWI Gajahmada) Desa Bejijong.

Candi BrahuDi hari pertama ini, sebagai pembicara yang hadir memberikan sambutan antara lain dari Kementerian
Dalam Negeri yang diwakili Direktur Sosial Budaya, Ditjen PMD, Wakil Bupati Mojokerto, Kepala BPPI – I Gede Ardika, dan juga Deputi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat, Sujana Royat. Setelah sambutan dari berbagai pihak, kemudian dilanjutkan mengunjungi situs Ngelinguk.

Si TinggilSitus ngelinguk ditemukan oleh kakeknya Ibu Umi beberapa tahun silam. Cukup memprihatinkan situs kuno ini, karena kurang terawat dengan baik. Situs ini terdiri dari bangunan kolam dengan bata merah khas majapahit yang ada cap atau gambar tertentu dan cukup besar. Selain bangunan yang cukup luas, disekitar situs ii juga terdapat beberapa sumur tua dengan batu bata yang tertata rapi.

Setelah melihat-lihat situs Ngelinguk rombongan kembali lagi dengan Bendi, Mobil dan Bus untuk makan siang (kembul bujana) di desa Bejijong dengan cara tumpengan yang digelar secara lesehan dan mengambil makanan sesuai selera masing. Hal ini mengingatkan kita cara makan bersama diwaktu jaman Nabi.

Patung KuninganSetelah makan siang selesai, kami ziarah ke Makam Raden Wijaya Kartarajasa Jaya Wardhana atau Brawijaya I, Majapahit, yang terletak lebih kurang 500 m dari pendapa kelurahan desa Bejijong. Selain Petilasan Raden Wijaya, disamping juga ada nisan Garwa Kinasih Gayatri dan juga Garwa Selir serta dua nisan yang penulis lupa literaturnya.

Dibawah menuju si tinggil ada dua nisan, dimana keduanya adalah tangan kanan Raden Wijaya, yaitu Sapuangin dan Sapujagat.

Selesai ziarah, kita melanjutkan ke Sleeping Budha yang masih diwilayah desa Bejijong. Foto-foto untuk dokumentasi, kemudian dilanjutkan ke Candi Brahu dan tidak lupa untuk dokumentasi. Selesai berkunjung ke Candi Brahu sebagian rombongan menikmati sambal wader di samping kolam segaran.

sambal waderMenurut kisah, sejarah yang disampaikan Ibu Wakil Bupati, kolam segaran adalah kolam abadi, karena airnya tidak pernah habis meski daerah lain kekeringan. Kolam segaran ini cukup luas dan asri. Selesai menikmati kuliner khas Mojokerto ini kemudian kembali ke penginapan untuk beristirahat.

candi bajangratuHari Kedua:
Acara dimulai sekitar pukul 09.00 pagi di Candi Bajang Ratu. Acara dibuka oleh kesenian Tari Majapahit dan dilanjutkan sambutan oleh I Gede Ardika mantan Menteri Kebudayaan yang saat ini sebagai Ketua BPPI, Pemda Kabupaten Mojokerto, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan juga Deputi Kemenko Kesra Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat.

persiapan nariSetelah acara di Candi Bajang Ratu selesai, dilanjutkan kembali untuk mengunjungi Museum Trowulan yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari Candi Bajang Ratu. Dimuseum ini dapat dijumpai beberapa peninggalan sejarah Majapahit berupa bangunan-bangunan dari batu bata.

museumDisinilah kegiatan acara ini berakhir, dan dari sinilah penulis membayangkan kebesaran dan kemakmuran Kerajaan Majapahit di masa lalu. Masih banyak peninggalan sejarah disini yang belum tergali secara maksimal, belum terpelihara secara baik, karena hampir setiap jengkal di daerah ini menemukan kejutan-kejutan mahakarya yang sangat luar biasa.

Semoga Indonesia yang penuh dengan kebhinekaan ini dapat belajar dari sejarah Majaphit yang besar, yang juga terdiri dari berbagai suku, agama, dan ras yang berbeda-beda. Menjadi bangsa yang besar, yang makmur untuk semua masyarakat Indonesia. amiiin. end/kd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s