DUNIA BOLA – YANG MUDA PERKASA YANG TUA MEMESONA

FC HollywoodNglarastenan – Kiasan dalam judul diatas sangat cocok untuk menggambarkan sepakbola, khususnya kiblat bola dunia, yaitu Eropa. Yang muda yang perkasa dapat diwakilkan pada pundak Antonio Conte (Juventus), Tito Vilanova (Barcelona), dan Frank de Boer (Ajax).

Dari kaum muda ini Ajax sungguh fenomenal, karena ditangan Frank de Boer tim ini secara beruntun mengemas jawara liga Belanda 3 kali beruntun, dan telah membawa Ajax menorehkan 32 kali jawara pada musim 2012/2013. Juventus, tim ini juga tidak kalah fenomenal. Setelah kasus calsiopoli Juve bangkit ditangan arsitek muda yang juga alumni Juve di era dream tim, yaitu pada didi Antonio Conte. Conte yang dimasa masih aktif menjadi pemain si Nyonya Tua telah ikut menyumbangkan 5 gelar jawara seri A, maka sebagai arsitek Conte membawa Bianconeri menjadi yang terdepan, dimana Juve saat ini telah menorehkan 31 juara liga seri A Italia atau 29 versi Federasi Sepakbola Italia.

Barcelona, meski masih jauh untuk menyamai raihan rekor Madrid, pelan namun pasti tim ini telah menjadi tim pengumpul medali terbanyak didekade sepuluh tahun terakhir. Mari kita flashback, Xavi saat ini adalah pemain the Catalan yang masih aktif yang telah ikut merasakan 7 kali merengkuh titel la Liga. Dan bukan tidak mungkin, torehan fenomenal Madrid akan terkejar oleh the Catalan, seperti The Reds yang dikubur Red Devil sebagai kolektor liga.

Itu tadi gambaran ketiga arsitek muda yang mumpuni, bahkan multi talenta karena dimasa menjadi pemain pun mereka menjadi tulang punggung tim masing-masing, kecuali Tito Vilanova yang tidak sementeren Conte dan Frank.

Yang tua yang memesona, kiasan ini sangat tepat terpatri dipundak para arsitek gaek, yaitu pada diri Alex Ferguson (Manchester United), Jupp Heynckes (Bayern Munich), dan Carlo Anceloti (PSG).

Fergi, selama 27 tahun menukangi MU telah mengoleksi 38 Piala dan tentu mengantar Setan Merah menjadi yang terdepan di liga Inggris menyisihkan The Reds Liverpol. Demikian pula dengan Jupp Heynckes, yang telah mengantar Munchen meraih kampiun liga Jerman dan kemungkinan dapat mengumpulkan trble winner, dimana Munchen akan melakoni final Liga Champion dan DFB Pokal. Pun demikian dengan DOn Carlo, pelatih yang sudah malang melintang di berbagai liga, dimana sukses dengan AC Milan di seri A, membawa Chelsea merengkuh titel Liga Primera Inggris dan yang paling gres membawa PSG menjadi kampiun liga Perancis.

Cerita manis sebagai kampiun selain meninggalkan kegembiraan juga sedikit membuat para pendukung sedih, paling tidak pada pendukung MU maupun Munchen. Fergi yang sudah melegenda di MU tidak misa melawan takdir dan harus menyudahi mempimpin pasukan teater of dream menjadi dirijen, pun demikian dengan Jupp Heynckes dimana lengser pada saat puncak karir memberikan yang terbaik buat tim. Mungkin hanya Don Carlo yang ketar-ketir, karena jantungnya di pompa para petinggi dengan target tinggi.

Cerita manis masih mengelilingi kaum muda, yaitu pada pundak Conte, Frank de Boer maupun Vilanova dimana para petinggi club, pemain maupun fans masih nyaman dengan keluarga besar masing-masing, yang artinya masih utuh di tim yang mereka arsiteki.

Itulah sepakbola, dari yang muda sampai yang tua saling membuat cerita, dari yang indah sampai yang sedih semua ada pada seni olah si kulit bundar. Semoga sepakbola Indonesia dapat memetik dari pesona liga yang menghibur, sportif, dan menghasilkan devisa dan tentunya dapat berbicara dikancah internasional, semoga. end/kd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s