SEJARAH – MENGINGAT KEMBALI TUNTUTAN REFORMASI 98

Mengingat kembali 6 tuntutan reformasi 1998.

1. Penegakan Supremasi Hukum
Perkembangan Supremasi Hukum di negeri ini masih jauh dari sempurna, meskipun hampir tidak ada kesempurnaan pada manusia. Namun paling tidak harus ada kemajuan yang cukup signifikan dalam penegakan hukum di negeri ini. Yang jadi masalah, sekarang banyak ahli hukum, banyak orang berbicara hukum tapi tidak sedikit juga yang justru mempermainkan hukum. Tiap hari bikin undang-undang, tapi kenyataan di lapangan ‘jauh pagang dari api’. Masih banyak kasus besar yang belum terselesaikan dengan tuntas.

2. Pemberantasan KKN
Reformasi Birokrasi sebagai Syarat Pemberantasan KKN, kenyataannya para pelaku paling pinter mempelintir memanfaatkan celah untuk memperkaya diri sendiri maupun keluarga, dan tidak sedikit pula yang mengatasnamakan demokrasi, sehingga keluarga (anak, istri, keluarga lainnya menggantikan bapak, atau keluarga dekat). Jadi apanya yang tidak nepotisme??? Coba kita tengok daftar dinasti politik di CALEG 2014.

3. Pengadilan Mantan Presiden Soeharto dan Kroninya
Untuk diri Pak Harto sendiri saya tidak yakin, tapi untuk kerabat dan kroninya monggo, silakan. Kesederhanaan Pak Harto sebenarnya masih tercermin sampai akhir hayatnya, dimana memilih untuk di rawat di rumah sakit lokal, dan dikebumikannya pun tidak di makam pahlawan. Rumah tinggalnya pun tidak mewah-mewah amat.

4. Amandemen Konstitusi
Sebenarnya kalau berani, UUD 45 sudah cukup sempurna, tapi justru dijadikan kekuatan untuk mengamandemen dengan dalih reformasi yang kebablasan juntrungnya (15 tahun pasca reformasi)

5. Pencabutan Dwifungsi TNI/Polri
Sudah dilakukan, cuman aparat sebagai alat negara tumpul dan jadi bulan-bulanan penegak Hak Asasi yang kebablasa, Hak Asasi Tanpa Bentuk menjadi Hak Asasi Kepentingan. Penulis sendiri pengennya penegak TNI/Polri makin gagah dan di segani tapi tetap merakyat, tidak ada lagi aparat yang tidak berani menembak penjahat, perampok yang melakukan kejahatan tidak melihat hak korbannya (hidup, memiliki harta, kekayaan).

6. Pemberian Otonomi Daerah Seluas-luasnya.
Kedengarannya sih indah, tapi tidak sedikit daerah yang gagal melaksanakan otonomi, dan tidak sedikit pula daerah yang mengalami kemunduran, dimana sarana infrastruktur makin hancur, dan seperti tumbuh raja-raja baru.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s