JELAJAH PUSAKA SEJARAH DAN PUSAKA KULINER DI KHATULISTIWA (BAGIAN KE ENAM)

Gambar

Dua keluarga menjadi rombongan kecil ini memanfaatkan waktu sisa untuk melihat-lihat ke candi Borobudur, sampai di lokasi sudah tengah hari lewat. Panas menyengat, tak lupa isi bahan bakar untuk keliling candi.

GambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarKe loket untuk membeli tiket, 4 dewasa, 2 anak, 2 balita, dan 2 batita dimana dewasa wajib beli tiket seharga 30.000IDR jreng, dan anak serta balita 12.500IDR jreng. Masuk ke area candi tak kembali sewa dokar/andong untuk keliling candi dengan bayar 30.000IDR jreng. Keliling candi sambil foto-foto candi dari atas kereta kuda dan akhirnya sampai pula lokasi masuk utama candi, turun dari kereta kemudian acara memakai kain untuk yang sudah dewasa sebelum naik ke candi.

LITERATUR CANDI BOROBUDUR

Candi Borobudur terletak di desa Borobudur, kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah dan dikelilingi beberapa dusun antara lain Bumi Segoro, Sabreng, Gopala, Jawahan, Barepan, Ngarak, Kelan, Janan dan Gendingan.

Dalam buku Candi Borobudur, Pustaka Jaya, Dr. Soekmono menuliskan:

Pada zaman dahulu Pulau Jawa terapung-apung ditengah lautan, oleh karenanya harus dipaku pada pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku yang sangat besar itu kini menjadi sebuah gunung yang terletak di kota Magelang, yaitu gunung Tidar. Disebelah selatan gunung Tidar kira-kira jarak 15 km terdapat candi Borobudur. Candi Borobudur yang terletak didaratan Kedu hampir seluruhnya dilingkari pegunungan.

Disebelah timur terdapat gunung Merapi dan gunung Merbabu, sisi barat laut terdapat gunung Sumbing dan Sindoro, juga disebelah selatan yang menbujur dari timur ke barat terdapat pegunungan menoreh. Oleh karena puncak-puncak pegunungan ini banyak yang runcing bagai menara, maka pegunungan ini dinamakan pegunungan menoreh. Dilihat dari candi Borobudur puncak-puncak pegunungan menoreh serupa dengan seorang yang sedang terlentang diatas pegunungan tersebut. Karena itulah ada cerita rakyat yang menjelaskan bahwa bagian dari puncak gunung yang serupa dengan orang tidur itu adalah Gunadharma, yaitu ahli bangunan yang berhasil membuat candi Borobudur.

Dataran Kedu dialiri oleh dua sungai besar, yaitu sungai Progo dan sungai Elo yang akhirnya menyatu menjadi sungai Progo dan mengalir ke selatan menuju Samudra Indonesia. (Dr. Soekmono, Pustaka Jaya 1981, hal 11 dan 12).

Bangunan-bangunan kuno yang berasal dari purba sejarah Indonesia (permulaan tarikh Masehi sampai akhir abad ke-15) biasanya disebut candi. Sebagian besar candi-candi itu tidak dikeahui nama aslinya. Candi-candi emmang harus diketemukan dahulu sebelum dimasukkan ke dalam khasanah pusaka budaya kita. Banyak candi-candi yang diberi nama sama seeprti desa dimana nama candi itu berada. Tetapi ada juga desa yang diberi nama menurut candinya. Hanya satu dua candi sajalah yang masih tetap menyimpan nama aslinya. Candi Borobudur sendiri sulit ditentukan apakah nama Borobudur mengambil dari nama desa atau nama desa yang mengambil nama dari candi tersebut.

Dari babad (kitab sejarah Jawa) dari abad ke-18 tersebut, “bukit borobudur”, sedang keterangan yang disampaikan kepada Raffles (Letnan Gubernur Jenderal Inggris) dalam tahun 1814 di desa Bumi Segoro menyatakan adanya sebuah penemuan-penemuan purbakala bernama “Borobudur”. Dengan penemuan itu maka dapat disimpulkan bahwa Borobudur adalah nama asli dari bangunan candinya. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa tidak ada sesuatu keterangan, baik prasasti maupun dokumen lain yang mengungkapkan nama candi Borobudur yang sesungguhnya.

Naskah dari tahun 1365 M, yaitu kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca juga menyebut kata/nama Budur untuk sebuah bangunan agama Budha aliran WAJRADHA.

Kemungkinan yang ada “BUDUR” tersebut tidak lain adalah candi Borobudur, karena tidak adanya keterangan yang lain kiranya bisa diambil suatu kepastian.

Penafsiran Borobudur telah pula dilakukan oleh Raffles berdasarkan keterangan yang ia kumpulkan dari masyarakat luas. Budur merupakan bentuk lain dari Budo yang dalam bahasa Jawa berarti kuno. Tetapi bila dikaitkan dengan Borobudur berarti Boro jaman kuno, jelas tidak mengandung suatu pengertian yang dapat dikaitkan dengan candi Borobudur. Raffles menampilkan keterangan lain, yakni Boro berarti Agung dan Budur disamakan dengan Budha. Maka Borobudur berarti Sang Budha Yang Agung. Namun, karena Bhara dalam bahasa Jawa kuno dapat diartikan banyak, maka Borobudur dapat diartikan pula Budha yang banyak.

Jika dikaji dengan teliti, keterangan yang dikemukakan Raffles memang tidak ada yang memuaskan, “Boro jaman kuno” kurang mengena, “Sang Budha Yang agung” maupun “Budha Yang Banyak” kurang mencapai sasaran. Perubahan kata “Budha” menjadi “Budur” misalnya, perubahan demikian dapat diterangkann dari segi ilmu bahasa. Karena sulit diterima. Inilah, maka banyak usaha lain untuk memberi tafsiran pada candi Borobudur dengan tepat.

Bapak Poerbatjaraka (almarhum) menafsirkan dengan sangat masuk akal. Menurut beliau, perkataan Boro itu Biara, dengan demikian maka Borobudur berarti Biara Budur. Keterangan Poerbatjaraka ini memang sangat menarik. Penyelidikan dan penggalian yang dilakukan tahun 1952 dihalaman sebelah barat laut bangunan candi Borobudur telah berhasil menemukan fondasi batu bata dan genta perunggu berukuran besar. Penemuan fonadi batu bata dan Genta ini memperkuat dugaan dari sisa-sisa sebuah Biara dihubungkan dengan kenyataan yang ada pada kitab Negara Kertagama mengenai nama “Budur” maka besar kemungkinan tafsiran Poerbatjaraka tepat, namun demikian masih merupakan suatu pertanyaan mengapa Biara dalam hal penamaan menggantikan candinya, padahal candi lebih penting daripada biaranya.

De casparis berhasil menemukan kata majemuk dalam prasasti yang kemungkinan merupakan asal kata “Borobudur”. Prasati yang berangka tahun 842M dijumpai perkataan Bhumi Sambhara Budhura sebutan untuk bangunan suci pemujaan nenek moyang. Penelitian yang mendalam tentang keagamaan yang terungkap dalam prasasti dan juga rekonstruksi yang sangat teliti terhadap geografi daerah terjadinya peristiwa sejarah yang bertahan dengan prasasti tersebut maka De Casparis menyimpulkan bahwa Bhumi Sabhara Budhura tidak lain adalah Borobudur. Perubahan Bhumi Sabhara menjadi Borobudur dapat diterangkan akibat gejala umum dalam bahasa sehari hari untuk menyingkat atau menyederhanakan ucapan. Sampai sekarang banyak serjana yang keberatan terhadap tafsiran De Casparis itu. Tapi haruslah diakui bahwa sampai sekarang belum ada keterangan atau tafsiran yang tepat mengenai nama Borobudur. 9Dr. Soekmono, Pustaka Jaya 1981, hal 39, 40, 41).

Drs. Sudirman dalam bukunya Borobudur salah satu keajaiban dunia menjelaskan mengenai arti Borobudur sampai sekarang belum jelas, namun juga dituliskan bahwa nama Borobudur berasal dari gabungan kata Bara dan Budur. Bara dari kata Sanskerta Vihara yang berarti kompleks candi dan Bihara atau asrama. (Poerbatjaraka dan Stutterheim). Budur dalam bahasa Bali beduhur yang berarti diatas.

Jadi nama Borobudur berarti asrama/vihara atau kelompok candi yang terletak diatas tanah/bukit/ (Drs. Sudirman, Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia 1980, hal 8). Candi Borobudur tidak hanya diperindah dengan relief relief dan ukiran ukiran hias tetapi juga dapat dibanggakan karena patung patungnya yang sangat tinggi mutu seninya. Patung patung itu semua menggambarkan Dhyani Budha terdapat pada bagian Rupadhatu dan Arupadhatu. Patung patung Budha di Rupadhatu ditempatkan dalam relung relung yang tersusun berjajar paa sisi luar pagar langkan sesuai dengan kenyataan bahwa tingkatan bangunannya semakin tinggi letaknya semakin kecil ukurannya.

Langkan pertama               :     104 patung Budha

Langkan kedua                    :     104 patung Budha

Langkan ketiga                    :     88 patung Budha

Langkan keempat              :     72 patung Budha

Langkan kelima                   :     64 patung Budha

Teras bundar pertama     :     32 patung Budha

Teras bundar kedua          :     24 patung Budha

Teras bundar ketiga          :     16 patung Budha

Keseleruhan                         :     504 patung Budha

Sekilas patung-patung Budha itu nampak serupa semuanya, tapi sesungguhna ada juga perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas ialah sikap tangannya yang disebut Mudra yang merupakan ciri khas untuk setiap patung.

Sikap tangan atau Mudra candi Borobudur ada 6 macam

Hanya saja oleh karena kedua macm Mudra yang dimiliki oleh patung yang menghadap semua arah, baik dibagian Rupadhatu (langkan kelima) maupun dibagian Arupadhatu yang pada umumnya menggambarkan maksud yang sama, maka jumlah Mudra yang pokok ada 5, yaitu:

Bhumispara Mudra:

Sikap tangan ini melambangkan saat Sang Budha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika ia menangkis semua serangan iblis Mara

Wara Mudra

Sikap tangan ini melambangkan perihal amal, memberi anugerah atau berkah. Mudra ini adalah khas bagi Dhyani Budha Ratna Sambawa. Patungnya menghadap ke selatan

Dyana Mudra

Sikap tanganini melambangkan sedang semedi atau mengheningkan cipta. Mudra ini merupakan tanda khusus Dhyani Budha Amitaba. Patung patungnya menghadap ke barat.

Abhaya Mudra

Sikap tangan ini melambangkan sedang menenangkan. Mudra ini merupakan tanda khusus Dhyani Budha Amoghasdh, patung patungnya menghadap ke utara

Dharma Cakra Mudra

Sikap tangan ni melambangkan gerak memutar roda dharma. Mudra ini menjadi cirikhas Dhyani Budha Wairocana daerah kekuasaannya terletak di pusat. Khusus di candi Borobudur Wairocana ini digambarkan juga dengan sikap tangan yang disebut Witarka Mudra. (Dr. Soekmono, candi Borobudur, Pustaka jaya, hal. 80, 82, 83).

SEJARAH BOROBUDUR

Waktu didirikan sampai sekarang belum pernah ditemukan sumber-sumber tertulis yang menyebutkan bilamana candi Borobudur itu dibangun sehingga secara pasti tidak dapat ditentukan usianya. Beberapa bukti telah dikemukakan oleh para ahli untuk menentukan usia bangunan Borobudur. Pada bagian kaki candi Borobudur yang tertutup terdapat tulisan singkat berbahasa sanskerta dengan huruf Kawi. Dengan membandingkan bentuk huruf huruf tersebut dengan prasasti prasati bertarikh yang ada di Indonesia, maka sementara sarja berpendapat bahwa candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 M.

Pada abad itu di Jawa Tengah berkuasa raja raja dari Wangsa Syailendra yang menganut agama Budha Mahayana sehingga dapatlah dikatakan bahwa Borobudur bersifat agama Budha Mahayana itu ada hubungannya dengan Wangsa Syailendra. (Drs. Soedirman, Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia, 1980, hal 1).

Bentuk bangunan candi Borobudur tidak mempunyai bilik ataupunruangan didalamnya, oleh karena itu tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai candi, dan lebih tepatnya kalau bangunan itu kita anggap sebagai bangunan ziarah dan bukan sebagai tempat pemujaan.

Sesungguhnya ada jenjang jenjang dan lorong lorong dimaksudkan sebagai pengantar serta pemandu para peziarah untuk menuju puncak melalui jalankeliling dari satu tingkat ke tingkat berikutnya.

Perjalanan setingkat demi setingkat sesuai dengan aliran Budha yang memang sangat mementingkan adanya tingkatan tingkatan dalam persiapan mental para penganutnya yang setia. Melalui tingkatan itulah tujuan akhir perjalanan manusia dapat tercapai, yaitu terlepasnya secara mutlak dari segi ikatan duniawi dan dapat bebas secaa mutlak dari kelahiran kembali, ataupun tingkatan tingkatan itu pada dasarnya dapat pula diterapkan pembagian alam semesta menjadi tiga dunia:

Kamadhatu (paling bawah), atau dunia hasrat. Dalam tingkatan ini manusia masih terikat pada hasrat, bahkan dikuasai oleh hasrat. Relief ini terdapat pada kaki candi bangunan asli.

Rupadhatu (dunia yang lebih tinggi), atau dunia rupa. Manusia telah meinggalkan segala hasratnya, tetapi masih terikat pada nama dan rupa. Bagian ini terdapat pada langkan 1 sampai 5.

Arupadhatu (dunia yang tertinggi), atau dunia tanpa rupa. Dalam tingkatan ini sudah tidak ada sama sekali nama ataupun rupa. Manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama lamanya segala ikatan kepada dunia fana. (Dr. Soekmono, Candi Borobudur, Putaka jaya, 1981, hal 47).

Bangunan candi Borobudur terbentuk limas berundak dan apabila dilihat dari atas merupakan bujursangkar. Bangunan candi ada 10 tingkat. Tiga tingkat yang paling atas berbentuk lingkaran dengan tiga teras.

Teras pertama terdapat 32 stupa berlubang, teras kedua terdapat 24 stupa berlubang dan teras ketiga terdapat 16 stupa berlubang dengan total keseluruhan 72 stupa berlubang. Masing-masing stupa terdapat patung Budha.

Ditengah tengah stupa tersebut terdapat stupa induk yang merupakan mahkota dari bangunan candi Borobudur. Stupa induk bergaris tengah 9,90 meter. Tinggi sampai bagian bawah pinakel 7 meter. Drs. Soedirman dalam bukunya Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia hal. 36 menulis bahwa diatas puncak pinakelnya dahulu diberi payung (caltra) bertingkat tiga (sekarang tidak terdapat lagi).

Stupa induk ini tertutup rapat, sehingga orang tidak dapat melihat didalamnya. Didalamnya terdapat kamar (ruangan) yang sekarang tidak berisi. Ada yang mengatakan bahwa ruangan itu untuk tempat penyimpanan arca atau relief, tapi pendapat itu masih diragukan kebenarannya. Karena sewaktu diadakan penyelidikan mengenai isi dari stupa induk oleh Residen Kedu Hartmann dalam tahun 1842 sama sekali tidak dibuatkan laporan tertulis, sehingga semua pendapat mengenai isi stupa induk itu hanya dugaan belaka.

Batu andesit yang digunakan untuk bangunan candi sebanyak 55.000minakelnya dahulu diberi payung (caltra) bertingkat tiga (sekarang tidak terdapat lagi). Stupa induk ini tertutup rapat, sehingga orang tidak dapat melihat didalamnya. Didalamnya terdapat kamar (ruangan) yang sekarang tidak berisi. Ada yang mengatakan bahwa ruangan itu untuk tempat penyimpanan arca atau relief, tapi pendapat itu masih diragukan kebenarannya. Karena sewaktu diadakan penyelidikan mengenai isi dari stupa induk oleh Residen Kedu Hartmann dalam tahun 1842 sama sekali tidak dibuatkan laporan tertulis, sehingga semua pendapat mengenai isi stupa induk itu hanya dugaan belaka.

Lebar dan panjang candi Borobudur 123 m, keliling candi Borobudur 492 m, tinggi sekarang 34,5 m, dan batu andesit yang digunakan untuk bangunan candi sebanyak 55.000m3.

Selesai baca literatur candi dalam perjalanan pulang mampir ke Baledono untuk membeli, mencoba bakpia Kencana yang sangat lembut dan nikmat banget. Dan menurut gerombolan penulis bakpia ini lebih lembut dan lebih gurih dibanding bakpia lainnya, yang konon sudah ngetop duluan. Bakpia kencana mengeluarkan berbagai taste, rasa seperti original kacang ijo, kumbu hitam (kacang ijo di olah dengan tambahan merang), ubi ungu, keju, susu, dan lain-lain dengan variasi harga per kotak isi 20 antara 25.000IDR dan kita coba beli 2 kotak rasa original dan kumbu hitam dengan menukar 52.500IDR jreng.

O, iya. Dijalan sempat menikmati juga es kelapa ijo dengan pemandangan hamparan sawah yang menghijau serta temaran merapi yang berselimut mega.

Lelah mendera perjalanan kali ini, namun karena perut belum terisi dengan sempurna maka malam nan syahdu ini kita manfaatkan kembali untuk berburu kuliner. Dan tempat yang kita sambangi kali ini adalah Ayam Goreng Bu Santi yang terletak di daerah Babarsari.

Karena lelah, anak anak pun hanya santai-santai melihat para sesepuhnya melahap suap demi suap nasi dan sambal bawang yang dahsyat nendangnya. Perut kenyang mata pun semakin menciut dan akhirnya pulang dan membayar ke kasir 116.000IDR jreng, balik hotel dan lelap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s