JELAJAH PUSAKA SEJARAH DAN PUSAKA KULINER DI KHATULISTIWA (BAGIAN KE SEMBILAN)

1

Bangun pagi, tidak lupa menggosok gigi kemudian sarapan di hotel sambil nenteng tripod. Karena memang rencananya mau mencoba semua armada dan menghabiskan full untuk jalan-jalan, dari jalan kaki, becak, bentor, bus, angkot, kereta, montor mabur, bahkan sampai vorijderan.

2345678910111213141617181920212325262728293031323334353637383940Setelah sarapan disamper abang becak dan dianter ke stasiun Tugu, bayar 10.000IDR jreng. Dasar narsis, tidak lupa foto-foto untuk dokumentasi. Apa aja di foto deh, apalagi nemu objek yang bikin hati adem. Ke loket untuk untuk beli tiket 3 orang dan bayar 60.000IDR jreng. Sambil menunggu jeng Sriwedari datang, jajan Roti yang aromanya bikin cleguk, dan setelah muterin stasiun akhirnya mampir dan berhenti di mesin tukang pijet, ya sudah pijit deh. Tak lama terdengar suara jeng Sriwedari datang.

Jam 09.15 Jeng Sri pun berteriak khas untuk membelah kota Jogja menuju Kota Solo untuk Balapan. Tujuan kali ini ke candi Prambanan dan sekitarnya. Sebenarnya naik tran Jogja hanya sekali sampai Prambanan, tapi perjalanan kali ini memang untuk merasakan semua moda yang ada di Jogja. Kereta pun hanya sebentar sudah sampai di Maguwo, karena memang hanya melewati satu stasiun, yaitu Lempuyangan. Selama perjalanan ya bercanda sama my princes.

Dari stasiun Maguwo kita lanjutkan menggunakan Trans Jogja menuju Prambanan dengan rute A1 (ke timur). Ternyata Trans Jogja yahut euy sopirnya, dan tak lupa bayar tiket yang murmer 3.000IDR jreng. Dari halte prambanan kita lanjutkan menggunakan dokar/andong ke pelataran candi Prambanan, bayar 30.000IDR jreng.

Menuju loket untuk membayar tiket ke candi, tidak lupa bayar untuk dewasa 30.000IDR dan nak anak 12.500IDR jreng. Ternyata masuk disini sudah pake magnetic bow kartunya, keren. Tak lupa, sebelum mendaki candi dan keliling pake kain lagi biar tambah keren, biar gak kentara kalo semar lagi nyamar.

Ternyata di Prambanan tidak kalah keren dengan candi-candi lain, tetap eksotic dengan landscape yang memukau. Tak lupa foto-foto narsis, dan dapat tambahan ilmu sulap euy dari kakek guide.

LITERATUR KOMPLEK PERCANDIAN PRAMBANAN (LORO JONGGRANG)

Lokasi candi Loro Jonggrang yang sering disebut candi Prambanan terletak persis diperbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah, lebih kurang 17 km ke arah timur dari kota Yogyakarta atau lebih kurang 53 km sebelah barat Solo. Komplek percandian prambanan ini masuk ke dalam 2 wilayah komplek bagian barat masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagian timur masuk wilayah Provinsi Jawa Tengah. Percandian Prambanan berdiri disebelah timur sungai Opak kurang lebih 200m sebelah utara jalan raya Yogya Solo.

Gugusan candi ini dinamakan “Prambanan” karena terletak di daerah Prambanan. Nama “Loro Jonggrang” berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis jangkung putri Prabu Boko.

Sejarah candi Prambanan adalah kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Sanjaya pada abad IX. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti berangka tahun 856 M “Prasasti Siwargrha” sebagai manifes politikuntuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar.

Terjadinya perpindahan pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya candi-candi di daerah ini ditambah terjadinya gempa bumi serta beberapa kali meletusnya Gunung Merapi menjadikan candi Prambanan runtuh tinggal puing-puing batu yang berserakan. Sungguh menyedihkan pada saat penemuuan kembali candi Prambanan.

Usaha pemugaran yang dilaksanakan pemerintah Hidia Belanda berjalan sangat lamban dan akhirnya pekerjaan pemugaran yang sangat berharga itu diselesaikan oleh bangsa Indonesia.

Pada tanggal 20 Desember 1953 pemugaran candi induk Loro Jonggrang secara resmi dinyatakan selesai oleh Dr. Ir. Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia pertama.

Sampai sekarang pekerjaan pemugaran dilanjutkan, yaitu pemugaran candi Brahma dipugar mulai tahun 1977 dan selesai diresmikan pada tanggal 23 Maret 1987. Sedangkan candi Wisnu mulai dipugar pada tahun 1982, selesai dan diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharo pada tanggal 27 April 1991.

Deskripsi bangunan komplek percandian Prambanan terdiri atas latar bawah, latar tengah dan latar atas (pusat) yang makin ke dalam makin tinggi letaknya.

Berturut-turut luasnya 390 meter persegi, 222 meter persegi dan 110 meter persegi. Latar bawah tak berisi apapun. Didalam latar tengah terdapat reruntuhan candi-candi perwara.

Apabila seluruhnya telah selesai dipugar, maka akan ada 224 buah candi yang ukurannya semua sama yaitu luas dasar 6 meter persegi dan tingginya 14 meter. Latar pusat adalah latar terpenting, diatasnya berdiri 16 buah candi besar dan kecil. Candi-candi utama terdiri atas 2 deret yang saling berhadapan. Deret pertama yaitu candi Siwa, candi Wisnu, dan candi Brahma. Deret kedua yaitu candi Nandi, candi Angsa dan candi Garuda.

Pada ujung-ujung lorong yang memisahkan kedua deretan candi tersebut terdapat candi apit. Delapan candi lainnya lebih kecil, empat diantaranya candi kelir dan can empat candi lainnya disebut candi sudut. Secara keseluruhan percandian ini terdiri atas 240 buah candi.

Candi Siwa

Candi dengan luas dasar 34 meter persegi dan tinggi 47 meter ini adalah candi terbesar dan terpenting. Dinamakan candi Siwa, karena didalamnya terdapat asra Siwa Mahadewa yang merupakan arca terbesar.

Bangunan ini dibagi atas 3 bagia secara vertikal, kaki, tubuh dan kepala/atap. Kaki candi menggambarkan “dunia bawah” tempat manusia yang masih diliputi hawa nafsu, tubuh candi menggambarkan “dunia tengah” tempat manusia yang telah meninggalkan keduniawian dan atap melukiskan “dunia atas” tempat para dewa.

Gambar kosmos nampak pula dengan adanya arca dewa-dewa dan makhluk-makhluk surgawi yang menggambarkan Gunung Mahameru (G. Everest di India) tempat para dewa. Percandian Prambanan merupakan replika gunung itu, terbukti dengan adanya arca-arca dewa Lokapala yang terpahat pada kaki candi itu sesuai dengan keempat arah mata angin.

Pintu utama menghadapat ke timur dengan tangga masuknya yang terbesar, dimana kanan-kirinya berdiri 2 arca raksasa penjaga dengan membawa gada yang merupakan manifestasi dari Siwa.

Didalam candi terdapat 4 ruangan yang menghadap keempat arah mata angin dan mengelilingi ruangan terbesar yang ada di tengah-tengah. Kamar terdepan kosong, sedangkan ketiga kamar lainnya masing-masing berisi arca-arca Siwa Maha Guru, ganesha dan Durga.

Dasar kaki candi dikelilingi selasar yang dibatasi oleh pagar langkan. Pada dinding langkan sebelah dalam terdapat relief cerita Ramayana yang dapat diikuti dengan cara “pradaksina” (berjalan searah jarum jam) mulai dari pintu utama.

Hiasan-hiasan pada dinding sebelah luar berupa “kinari-kinari” (makhluk bertubuh burung berkepala manusia), “kalamakara” (kepala raksasa yang lidahnya berwujud sepasang mitologi) dan makhluk surgawi lainnya. Atap candi bertingkat-tingkat dengan susunan yang amat komplek, masing-msing dihiasi sejumlah “ratna” dan puncaknya terdapat “ratna terbesar”.

Arca Siwa Mahadewa

Menurut Trimurti-Hindu, yang paling dihormati adalah Dewa Brahma sebagai pencipta alam, kemudian Desa Wisnu sebagai pemelihara dan Dewa Siwa sebagai perusak alam. Tetapi di India maupun di Indonesia, Siwa adalah yang paling terkenal. Di Jawa dianggap yang paling tertinggi karenanya ada yang menghormatinya sebagai Mahadewa. Arca ini mempunyai tinggi 3 meter berdiri diatas landasan batu setinggi 1 meter.

Diantara kaki arca dan landasannya terdapat batu bundar berbentuk bunga teratai, Arca ini menggambarkan raja Balitung, tanda-tanda sebagai Siwa adalah tengkorak diatas bulan sabit pada mahkotanya, mata ketiga pada dahinya, bertangan 4 berselempangkan ular, kulit harimau dipinggangnya serta senjata Trisula pada sandaran arcanya. Tangan-tangannya memegang kipas, tasbih tunas, tunas bunga teratai dan benda bulat sebagai benih alam semesta.

Raja Balitung dipandang sebagai penjelmaan Siwa sehingga setelah wafat dicandikan sebagai Siwa oleh keturunan dan rakyatnya.

Arca Siwa Maha Guru

Arca ini berwujud seorang tua berjanggut yang berdri dengan perut gendut. Tangan kanannya memegang tasbih, tangan kirinya memegang kendi dn bahunya terdapat kipas. Semuanya adalah tanda-tanda seorang pertapa Trisula yang terletak disebelah kanan, belakangnya menandakan senjata khas Siwa.

Arca ini menggambarkan seorang pendeta alam dalam istana Raja Balitung sekaligus seorang penasehat dan guru. Karena besar jasanya dalam menyebarkan agama Hindu-Siwa, maka ia dianggap sebagai salah satu aspek (bentuk) dari Siwa.

Arca Ganesha

Arca ini berwujud manusia berkepala gajah bertangan 4 yang sedang duduk dengan perut gendut. Tangan-tangan belakangnya memegang tasbih dn kampak sedangkan tangan-tangan depannya memegang patahan gadingnya sendiri dn sebuah mangkuk.

Ujung belalainya dimasukkan kedalam mangkuk itu yang menggambarkan bahwa ia tak pernah puas meneguk ilmu pengetahuan. Ganesha menjadi lambang kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan, penghalau segala kesulitan. Pada mahkotanya terdapt tengkorak dan bulan sabit sebagai tanda bahwa ia anak Siwa dan Uma, istrinya. Arca ini menggambarkan putera mahkota sekaligus panglima perang Raja Balitung.

Arca Durga atau Loro Jonggrang

Arca ini berwujud seorang wanita bertangan 8 yang memegang beraneka ragam senjata: cakra, gada, anak panah, ekor banteng, sankha, perisai, busur, panah dan rambut berkepala raksa asura. Ia berdiri diatas banteng Nandi dalam sikap “tribangga” (3 gaya gerak yang membentuk 3 lekukan tubuh). Banteng Nandi sebenarnya penjelmaan daru Asura yang menyamar. Durga berhasil mengalahkannya dan menginjaknya sehingga dari mulutnya keluarlah Asura yang lalu ditangkapnya. Ia adalah salah satu aspek dari “sakti” (isteri) Siwa.

Menurut mitologi, ia tercipta dari lidah lidah api yang keluar dari tubuh pada dewa. Durga adalah dewi kematian, karena arca ini menghadap ke utara yang merupakan mata angin kematian. Sebenarnya arca ini sangat indah bila dilihat dari kejauhan nampak seperti hidup dan tersenyum, namun hidungna telah rusak oleh tangan-tangan jahil. Arca ini menggambarkan permaisuri Raja Balitung.

Candi Brahma

Luas dasarnya 20 meter persegi dan tingginya 37 meter. Didalam satu-satunya ruangan yang ada berdirilah arca Brahma berkepala 4 dan berlengan 4. Arca ini sebenarnya sangat indah, tetapi sudah rusak. Salah satu tangannya memegang tasbih yang satunya memegang “kamandalu” tempat air. Keempat wajahnya menggambarkan keempat kitab suci Weda masing-masing menghadap keempat arah mata angin. Keempat lengannya menggambarkan keempat mata angin. Sebagai pencipta, ia membawa air karena seluruh alam keluar dari air. Tasbih menggambarkan waktu.

Dasar kaki candi juga dikelilingi oleh selasar yang dibatasi pagar langkan, dimana pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief lanjutan ceritera Ramayana dan relief serupa pada candi Siwa hingga tamat.

Candi Wisnu

Bentuk, ukuran relief dan hiasan dinding luarnya sama dengan candi Brahma. Didalam satu-satunya ruangan yang ada berdirilah arca Wisnu bertangan 4 yang memegang gada, cakra, tiram. Pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief cerita Kresna sebagai “Avatara” atau penjelmaan Wisnu dan Balarama (Baladewa) kakaknya.

Candi Nandi

Luas dasarnya 15 meter pesegi dan tingginya 25 meter. Didalam satu-satunya ruangan yang ada, terbaring arca seekor lembu jantan dalam sikap merdeka dengan panjang ±2 meter. Disudut belakangnya terdapat arca dewa Candra yang bermata tiga berdiri diatas kereta yang ditarik 10 ekor kuda. Surya berdiri diatas kereta yang ditarik oleh 7 ekor kuda. Candi ini sudah runtuh.

Candi Angsa

Candi ini mempunyai satu ruangan yang tak terisi apapun. Luas dasarnya 13 meter persegi dan tingginya 22 meter. Mungkin ruangan ini hanya dipakai untuk kandang angsa, hewan yang biasa dikendarai oleh Brahma.

Candi Garuda

Bentuk, ukuran serta hiasan dindingnya sama dengan candi Angsa. Didalam satu-satunya ruangan yang ada terdapat arca kecil yang berwujud seekor garuda diatas seekor naga. Garuda adalah kendaraan Wisnu.

Candi Apit

Luas dasarnya 6 meter persegi dengan tinggi 16 meter. Ruangannya kosong. Mungkin candi ini dipergunakan untuk bersemedi sebelum memasuki candi-candi induk. Karena keindahannya ia mungkin digunakan untuk menenamkan estetika dalam komplek percandian Prambanan.

Candi Kelir

Luas dasarnya 1,55 meter persegi dengan tinggi 4,10 meter. Candi ini tidak mempunyai tangga masuk. Fungsinya sebagai penolak bala.

Candi Sudut

Ukuran candi-candi ini sama dengan candi kelir.

Candi-candi lain di sekitar Prambanan

Candi Lumbung, Bubrah dan Sewu

Ketiga candi Budha ini tinggal reruntuhan, kecuali candi sewu yang masih bisa dinikmati dalam komplek Taman Candi Prambanan.

Pt. Taman wisata candi

Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Unit Taman Wisata Candi Prambanan.

Masih ada beberapa Pusaka Wisata Sejarah yang belum sempat kami telusuri, diantaranya candi Plaosan, candi Sojiwan, Candi Banyunibo, candi Sari, candi Kalasan dan juga candi Sambisari.

Sepulang wisata candi di komplek candi Prambanan ini kami naik BETOR (Becak Motor), untuk menuju ke Shelter bus Tans Jogja dengan bayar 15.000IDR, jreng.

Sampai halte bus Trans Jogja yang terletak diseberang komplek candi Prambanan langsung menuju tiket, dan tak lupa bayar 3.000IDR per kepala, jreng.

Cukup lama menanti kedatangan trans jogja rute A1 ini, dan sampai suasana halte yang tadi lengang menjadi penuh sesak oleh calon penumpang yang akan menuju ke Jogja. Bus tran Jogja melewati rute jalan Jogja – Solo dan mampir di stasiun Maguwo, Janti, dan seterusnya sampai akhirnya ketemu rombongan yang semula kami kira demo, ternyata rombongan anak-anak muda menyambut ramadhan. Dan sampai juga di halte bus trans jogja Malioboro I yang terletak di dekat stasiun tugu, depan hotel Garuda Inn, Jogja. Karena sudah cukup lelah, akhirnya sambung lagi dengan becak genjot dengan ongkos 5.000IDR, jreng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s