ANGKRINGAN MBAH MO – SISI LAIN ARJUNA

GambarNglarastenan – Sudah sekian lama tidak berkunjung ke Angkringan Mbah Mo, dan kali ini kita mampir ke Mbah Mo sambil mendengarkan Mbah Mo bercerita. Kenapa kali ini dengan Bahasa Indonesia? Karena Mbah Mo kepengen berbagi secara lebih luas, dengan cerita yang dapat dimengerti oleh pecinta wayang se Indonesia.

Dalam kisah pewayangan Arjuna digambarkan sebagai ksatria yang gagah, tampan dan sakti mandraguna, bahkan beberapakali dewa pun meminta pertolongannya untuk menghentikan berbagai kericuhan kahyangan. Dan setiap kali bisa mengalahkan musuh, maka bonus berupa bidadari atau dewi pun menjadi hak miliknya, seperti juga pada kisah Wisanggeni lahir.

Arjuna berjasa kepada para dewa sebagai pembunuh bayaran untuk memusnahkan dua raja ular raksasa sakti, yaitu Naga Taksaka dan Naga Wisesa. Karena jasanya membunuh kedua raja sakti yang bercita-cita merajai dunia dan kahyangan, maka Arjuna mendapat bayaran atau hadiah berupa putri dewa api atau dewa Brama, yaitu Dewi Dresanala.

Bukan kisah cinta Arjuna dan Dresanala dan budi baik dalam menumpas angkaramurka, tetapi sisi lain Arjuna dalam kisah cinta sebagai seorang wayang di dunia asmara, yang menurut saya tidak patut dilakukan oleh seorang ksatria.

Dikisahkan, oleh para dalang bahwa Prabu Salya dari kerajaan Mandaraka mempunyai anak 5 (lima), antara lain Dewi Erawati (paing tua), Dewi Surtikanti kemudian Dewi banowati. Sedangkan anak ke empat dan kelima adalah laki-laki, yaitu Raden Burisrawa dan Raden Rukmarata.

Setelah dewasa, Dewi Erawati dipersunting oleh Prabu Baladewa raja dari Mandura, sedangkan Dewi Surtikanti dipersunting ksatria dari Ngawangga, yaitu Adipati Karno. Adipati Karno merupakan anak dari Kunti (talibrata), yang lahir dari sebuah ajian mantra cipta (Dewa Matahari). Dan ajaibnya, Karna atau Suryatmaja, yang berarti anak dewa matahari lahir dari telinga Dewi Kunti, maka dinamai pula Karna.

Sedang putri ke tiga Prabu Salya adalah Dewi Banowati. Kisah cinta Banowati – Arjuna tumbuh tatkala Arjuna membantu Baladewa menemukan Dewi Erawati yang pada waktu itu diculik oleh Kartawiyoga, disitulah Banowati berkenalan dengan pemuda nan tampan Arjuna. Saat itu pula Banowati yang sudah gadis jatuh cinta pada Arjuna. Meski arjuna tidak menolak cinta sang Dewi (sapa sih yang menolak dapat gadis cantik nan molek, anak penguasa pula), namun cinta remaja antara Dewi Banowati dan Arjuna kandas, karena pada akhirnya Dewi banowati dengan terpaksa harus menjadi istri dari Prabu Anom Suyudana atau Duryudana atas desakan ayah dan kakak iparnya, Baladewa.

Dewi Banowati bersedia menjadi istri permaisuri Prabu Duryudana, tetapi dengan syarat yang nyleneh. Syarat tersebut antara lain, agar nanti bila akan menjadi pengantin, maka Arjunalah yang memandikan dan meriasnya. Tahu sendiri kan pembaca, anak sekarang??? Masih mandiin doang? Meski syarat tersebut penyinggung perasaan dan melecehkan Duryudana sebagai calon suami, namun penguasa Astina itu akhirnya menyetujuinya.

Didalam pewayangan Dewi Banowati adalah contoh, karakter wanita yang tidak setia pada suami, dan Arjuna pun setali tiga uang dalam dunia asmara. Arjuna yang tampan dan playboy tetap menerima cinta wanita meski sudah bersuami, dan ini menurut penulis tidak pantas dilakukan oleh seorang ksatria yang banyak dipuja.

Dalam berbagai cerita pedalangan sering dikisahkan secara samar tentang hubungan gelap (asmara) serta perselingkuhan Banowati dan Arjuna. Bahkan ketika Banowati melahirkan anak pertama, wajah bayi itu ternyata mirip dengan Arjuna. Dan kenyataan itu sangat mengkhawatirkan Banowati dan Arjuna, sehingga Arjuna pun memohon kepada para dewa agar anak Banowati jangan mirip dirinya. Permohonan itu dikabulkanm dan wajah bayi tersebut mirip Suyudana dan anak Banowati ini diberi nama Lesmana Mandrakumara, yang digambarkan seperti orang autis.

Jadi, Arjuna yang selalu dikisahkan sebagai seorang ksatria sejati tetapi sebagai manusia Arjuna juga tetap mempunyai nafsu yang akhirnya menjerumuskannya keperbuatan yang tidak baik. Wayang yang merupakan kiasan, gambaran kehidupan manusia didunia ini, maka hal-hal yang sering kita dengar, sering kita jumpai ternyata ada didunia pewayangan, dan tinggal bagaimana para penikmat wayang memaknai antara yang baik dan yang buruk.

Kisah cinta Banowati – Arjuna akhirnya tercapai setelah perang bharatayuda. Dan Banowatipun akhirnya mati dibunuh oleh Bambang Aswatama putra Durna yang dengan dendam dan kebencian yang membara. Sebagian dalang  wayang kulit bahkan menjadikan Dewi Banowati sebagai sasaran olok-olok, tetapi tidak dengan Arjuan. Tidak adil bukan? end/KD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s