JELAJAH PUSAKA SEJARAH DAN PUSAKA KULINER DI KHATULISTIWA (BAGIAN KE SEPULUH)

GambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarMasih belum puas JELAJAH PUSAKA, di hari terakhir plesiran ke Jogja kali ini, pada hari Selasa (9/7) pagi-pagi menunggu untuk check-out kita jalan menuju ke Kraton Jogja. Perjalanan pagi ini ditempuh dengan menggunakan becak genjot dengan mengganti uang genjot 15.000IDR, jreng.

Rute kali ini menyusuri jalan Malioboro, lurus ke selatan dan melalui gladag pangurakan, sampailah kita di alun-alun utara. Tentang nama pangurakan banyak keterangan, versi.

Pertama Goricke dan Roorda, mengartikan tempat ini sebagai suatu tempat dimana “urak” atau “daftar jaga” diserahkan kepada yang berkewajiban, sedangkan BPH. Suryodiningrat berpendapat bahwa tempat ini dahulu adalah sebuah tempat dimana pegawai kraton yang mendapat hukuman buang di urak (diusir) dari kota.

Keliling alun-alun terdapat 62 batang pohon beringin dan di tengah tengah 2 batang, jadi semunya 64 batang, sesuai dengan usia Nabi Muhammad SAW.  Pohon beringin ditengah alun-alun berpagar batu baa, maka desebut juga “Waringin Kurung”. Diberi nama Kyai Dewadaru dan Kyai Janadaru, menggambarkan dua sifat yang berlawanan didunia ini. KPH Brongtodiningrat berpendapat bahwa kedua Waringin Kurung ini menggambarkan sirnuolis, macro cosmos dan microcosmos.

Disela-sela pohon beringin keliling alun-alun berdiri bangunan-bangunan berbentuk pendapa, disebut Pekapalan Tempat Bupati-bupati dahulu lugur (singgah untuk beberapa hari) kalau ada sesuatu upacara. Sekarang dipakai untuk bermacam-macam kantor jawatan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta/Kota Yogyakarta.

Disebelah barat alun-alun berdiri masjid besar, berbentuk pendapa tertutup dengan serambi terbuka dimukanya. Atapnya bertingkat, tiang-tiang Masjid Besar disebelah dalam terdiri dari batang-batang kayu jati bulat-bulat menjulang ke atas menahan kedua atap masjid itu. Konstruksi dan arsiteknya Jawa Asli.

Dihalaman masjid sebelah kanan-kiri ada dua bangunan berlantai tinggi bernama Pagongan, tempat gamelan. Sekali dibunyikan selama satu minggu menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Alaun-laun utara ini satu bagian dari kompleks Kraton yang sangat penting. Dari dahulu sampai sekarang, sebab disinilah Raja dapat berhubungan langsung dengan rakyat, seperti pada latihan-latihan watangan (tournai), rampongan macan, garebeg, maleman Sekaten dan lain-lain. Kejadian-kejadian tersebut mengambil tempat diseluruh alun-alun, oleh karenanya sukar bagi pemerintah untuk menanaminya dengan bunga-bungaan dan sebagainya.

Sekarang kita mendekati kompleks kraton yang membujur dari utara ke selatan sepanjang lebih kurang  km, terdiri atas 7 halaman, satu dengan lainnya dihubungkan dengan sebuah pintu gerbang, regol namanya.

Halaman antara Pegelaran dan Sitihinggil ditanami dengan 6 batang pohon gayam, (gayam menggambarkan gayuh = cita-cita). Menurut KPH. Brongtodiningrat, gayam = ayam = tenang = bahagia.

Sebelum kita naik ke Sitihinggil, di kanan kiri kita melihat bangsal bangsal kecil disebut Bangsal Pacikeran, tempat jaga pegawai-pegawai kraton yang tugasnya melaksanakann keputusan-keputusan hakim, yaitu abdi dalem Singonegoro dan Mertolulut (algojo-algojo kraton). Menurut KPH Suryoningrat sampai dengan tahun 1926 bangsal-bangsal ini masih dipakai.

Sesampai diSitihinggil tanpa kita sadari telah berada dibawah sebuah bangunan persegi empat bertiang besi, Tarub Agung namanya, yaitu tempat pembesar-pmebesar menunggu rombongan untuk bersama-sama masuk kraton. Langsung kita berhadapan dengan sebuah bangsal besar Tratag Sitihinggil namanya.

Dahulu memeng sebuah tratag, beratap anyaman bambu, tetapi pada tahun 1926 dimuliakan oleh Sri Sultan HB. VIII menjadi sebuah bangsal yang sangat megah. Hiasan relief ditebing sebelah muka menggambarkan sebuah condrosangkolo, “Pendito cokro nogo wani” (1857) dan dibelakangnya sebuah suryosangkolo, “Gono asto kembang lata” (1926). Disinilah tempat Pangeran-pangeran serta tamu-tamu Sri Sultan duduk pada upacara-upacara kebesaran, misalnya garebeg, penobatan Sri Sultan, dan sebagainya. Ditengah-tengah terlihat sebuah Bangsal Manguntur Tangkil, tempat Singgasana Sri Sultan. Belakang singgasana ada sebuah bangunan besar berbentuk pendapa berlantai marmer dihiasi ukiran-ukiran indah sekali yang disebut Bangsal Wilono.

Pada upacara garebeg, disinilah tempat pusaka-pusaka kraton. Pada tebing belakang dari lantai tengah bangsal Wilono tertulis sebuah condrosengkolo, “Tinoto purantining madyo Wilono” (1855) dan sebuah suryosangkolo, “Linungit kembar gatraning ron” (1925). Kedua-duanya menunjukkan tahun dimuliakannya bangsal ini oleh Sri Sultan HB. VIII.

Dihalaman Sitihinggil sebelah timur berdiri sebuah bangunan Bale Bang namanya, dahulu dipakai untuk menyimpan gamelan Sekati. Disebelah barat terletak Bale Angun-angun, disini dahulu disimpan sebuah pusaka kraton kanjeng Kyai Sura Angun-angun, sebuah tombak untuk membunuh banteng.

Di Sitihinggil inilah Sri Sultan dinobatkan. Selogilang disebelah kanan Bangsal Tangkil agak ke muka adalah tempat untuk putera Mahkota.

Kita turun dari Sitihinggil menuju bagian kraton lain, yaitu bagian ke II dari karaton, disebut kemandungan lor (keben). Sebelum sampai Keben kita lalui sebuah tembok pemisah yang tebal dan tinggi, yaitu Benteng Mentok Baturetno, kalau kita sudah sampai pintu gerbang Brojonolo, terbentanglah dimuka kita halaman kemandungan lor. Dinamakan oleh rakyat Keben, karena disini terdapat pohon-pohon keben. Ditengah-tengah halaman terpancang bangsal Ponconiti, dihias dengan ukir-ukiran kayu yang indah. Bangsal ini dahulu dipakai untuk mengadili sesuatu perkara dengan hukuman mati.

Sidang pengadilan dipimpin oleh Sri Sultan sendiri. Tetapi menurut GPH Mangkukusumo sejak pemerintahan Sri Sultan HB. VIII (jaman Raffles) tidak dipakai lagi. Tamu-tamu keraton turun dari kendaraan di Bale Anti Wahana sebelah selatan Bangsal Ponconiti. Melalui pintu gerbang (regol) Srimanganti kita sampai halaman Srimanganti, bagian kraton ke III. Dihalaman ini terdapat dua bangsal, yaitu bangsal Srimanganti disebelah barat dan Trajumas disebelah timur.

Dibangsal Srimanganti sekarang disimpan pusaka-pusaka kraton berupa Gamelan seperti Kyai Gunturmadu dan Kyai Nogowilogo, juga masyur dengan nama Gamelan sekali. Hanya sekali dalam setahun dihalaman kita dapat mendengar gamelan ini pada bulan Maulid, 7 hari lamanya di halaman masjid Besar untuk memperingati naluri pada zaman masuknya Islam di Jawa. Pada waktuitu Sunan Kalijaga memberi dakwah Islam dengan memukul gamelan di masjid Demak. Kyai Guntur Laut seperangkat gamelan keraton, hanya dibunyikan untuk menghormati Sri Sultan atau tamu resmi/agung. Kyai Kebo Ganggang adalah seperangkat gamelan keraton dibunyikan pada upacara sunatan putra putri Sri Sultan. Kyai Tanda Lawak adalah sebuah tandu Sri Sultan HB. I.

Dibangsal Trajumas sekarang disimpan bermacam-macam Tandu Jempono, Plongko, Joli, meja hias dan lain-alin. Melalui gerbang Danapertapa sampailah kita di halaman keraton bagian ke IV dan yang terpenting, oleh karena Sri Sultan Putera Mahkota berdiam disini. Pintu gerbang Danapertapa inipun dihias dengan sangat indah, menggambarkan sebuah suryosangkolo, “jagad ing asta neng wiwara narpati” (1921) dan disebelah belakangnya sebuah condrosangkalo, “Esti sara esti aji” (1858).

Hiasan sebelah muka menggambarkan juga nama Sri Sultan dan cita-citanya, yaitu memakmurkan rakyat dan negaranya. “Pepetan” (hiasan) semacam ini disebut “sangkalmemet”. Paling atas nama Sri Sultan digambarkan dengan jagad dilingkari oleh bulatan (jagad = buwana, lingkaran = wengku = mengku) jadi Hamengku Buwana. Sengkalan memet (chronogram) ini menunjukkan tahun waktu Sri Sultan HB. VIII mulai memegang tampuk pemerintah. “Daun kluwih” (luwih/lebih) “padi” dan “kapas” lambang sandang dan pangan = kemakmuran.

Dimuka gerbang sebelah kiri kanan berdiri dua buah patung raksasa kembar, simbol penjaga kraton atau penjaga diri manusia pribadi, yaitu bahwa nasib baik dan buruk. Pada hakekatnya baik dan buruk itu sama, tinggal kita memilih mana yang kita sukai tanggungjawab sendiri.

Dalam regol Danapertapa di dinding belakang sebuah lambang kraton Yogyakarta. Sebelah atas adalah mahkota Sri Sultan, dibawahnya kanan kiri “Sumping” kerajaan.  Kedua sayap menggambarkan sifat waspada dan bijaksana. Ditengah terlukis nama Sri Sultan dengan huruf Jawa: HB=Hamengku Buwana. Warna simbol keemasan berarti warna segala apa yang mengandung keagamaan. Dasar merah berarti berani. Semuanya sesuai dengan gelar Sri Sultan = Sayidin Panatagama Kalifatullah.

Regol Danapertapa telah kita lalui dan dimuka kita terbentang halaman kraton atau Plataran Kedaton, yakni bagian inti dari komplek kraton. Plataran ini ditanami pohon-pohon sawo kecik. Dengan daun-daunnya yang rindang pohon sawo memberi suasana aman dan tenteram. Disebelah barat menghadap ke timur berdirilah Bangsal Kencana berbentuk pendapa dilingkari dengan emper (kaki lima) pada keempat sisinya. Bentuk semacam ini disebut bentuk Sinom. Lantainya dari marmer, tiang-tiangnya kayu jati, plafonya dihias ukir-ukiran amat indah, warna tiang dan bentuk bangsal merupakan suatu keserasian (harmoni) yang amat indah. Pada upacara-upacara kebesaran Sri Sultan duduk di singgasana di tengah-tengah keempat tiang utamanya (Saka guru) menghadap ke timur. Bangsal ini dikelilingi tratag, berlantai marmer bertiang besi dan beratap seng. Disinilah dahulu diadakan latihan-latihan beksan (tari Jawa) oleh abdi dalem dan kerabat kraton. Tempat dimuka tratag. Disinilah pula pemain beksan bersiap-siap menunggu gilirannya. Juga dipakai tempat gamelan kalau ada tamu agung. Tratag disebelah barat bangsal kencana adalah tempat latihan penari-penari putri.

Disebelah bangsal Kenana terlihatlah gedung besar berdinding gebyog kayu berwarna sawo matang berlantai marmer, yaitu Bangsal Proboyakso, tempat penyimpanan pusaka-pusaka kraton. Didalamnya ada lampu yang tak pernah padam.

Kyai Wiji namanya. Menurut KPH. Brongtodiningrat lampu ini adalah simbol dari sinar yang tak pernah padam. Sedang menurut Dr. Th Pigeaud simbol dari “Het Licht van oncc geest” (sinar semangat jiwa kita). Disebelah utara bangsal Proboyakso terlihat ada sebuah gedung besar menghadap ke timur berwarna kuning gading dihias ukir-ukiran sangat indah/halus. Arsitek gedung, warna gedung dan hiasannya merupakan suatu keharmonisan yang amat indah sekali. Gedung ini disebut menurut warnanya, yaitu “Gedong Kuning” tempat bersemayam Sri Sultan.

Belakang Gedong Kuning dan Gedong Proboyakso adalah Keputren. Dimuka Gedong Kuning agak sedikit ke utara berdiri sebuah gedung bertingkat menghadap ke bangsal kencana, disebut Gedung Purworetno, yaitu Kantor Sekretaris Pribadi Sri Sultan. Disebelahnya ada ruangan untuk berhias tamu-tamu keraton, diberi nama Panti Sumbaga.

Dihalaman kraton, tepat berhadapan dengan Gedong Kuning berdiri Bangsal Mandalasana, sebuah bangsal tempat pemain musik. Di sebelah selatan bangsal kencana kita lihat sebuah bangsal berbentuk limasan berlantai marmer yang menghadap ke timur, yaitu bangsal Manis. Diatas pagar kuncungnya di sebelah barat dan timur ada hiasan ukiran kayu menggambarkan dua naga di tengahnya ada raksasa. Di dahi raksasa ada lintahnya. Inipun condrosangkolo, yaitu tahun dibuatnya bangsal ini, bunyinya, “Werda yakso nogo rojo = lintah = 3, yakso = 5, naga = 8, rojo/mahkota = 1 (1853). Bangsal ini dipakai untuk pesta-pesta. Sekarang dipakai untuk membersihkan pusaka-pusaka pada bulan sura.

Mulai dari gedung yang paling kiri berdirilah pertama-tama gedung patehan sebuah gedung untuk memersiapkan minuman the bagi tamu-tamu. Di sampingnya adalah gedung kas karaton. Kedua gedung ini menghadap ke utara. Kemudian gedung siliran untuk menyimpan lampu-lampu. Gedung baya untuk menyimpan minuman dan alat makan, dan kemudian ada dua buah gedung untuk menyimpan gamelan yaitu sebelah selatan untuk menyimpan gemelan slendro dan sebelah utara untuk gamelan pelog. Di tengah-tengah kedua gedung gemelan ada gerbang, regol gapura untuk masuk ke kesatrian, yang dahulu adalah tempet putera mahkota dan keluarganya. Oleh sekarang tidak ada putera mahkota, bagian ini digunakan untuk kepreluan latihan kesenian. Pada hari-hari tertentu, di sini diadakan latihan beksan memukul gamelan dan siaran-siaran karawitan karaton yang dipancarkan RRI karaton II.

Sebelum sampai di dalam seseunguhnya kita memulai bangsunan-bangunan dan bekas kandang kuda., sekarang dirombak jadi untuk menyimpan gamelan-gamelan dan inventaris karaton, serta tempat bacaan banjar wilopo namanya bibilothek.

Sebuah gedung dimana dulu di simpan pakaian kuda yaitu gedugn kappa, sekarang dijadikan museum karaton, gedung pringgondani, sekarang dipakai untuk menyimpan lukisan-lukisan raden shaleh dan beberap potret tentang perkawinan putera-puteri sultan.

Kembali kehalaman plataran karaton, di sebelah selatan ada sebuah pintu gerbang disebut regol kemagangan. Magang berarti calon. Di halaman ini dahulu calon-calon prajurit diuji ketangkasannya dalam menggunakan tombak, dihadiri oleh pangeran-pangeran dan karabat karaton lainnya.  Bangunan-bangunan ini di sudut selatan adalah untuk membuat gunungan. Sedekah makan dibuat gunungan pada hari grebeg, halaman ini adalah bagian ke V kompleks karaton.

Regol kamagangan di sebelah dalam dihiasi dengan condrosangkolo juga, dua ekor naga berlilitan satu sama lain dalam bahasa jawa “dwi nogo roso tunggal”, dwi=2, nogo-8, roso=6, tunggal=1. Dibaca dari belakang 1682 tahun jawa yaitu tahun di dirikannya karaton ngayogyakarta.

Di bagian luar regol, menghadap keselatan terlihat di atas dinding kanan-kiri sebuah dekorasi terdiri dari seekor naga merah dalam keadaan siap menerkam. Dekorasi ini sebuah condrosangkolo yang harus dibaca “dwi nogo roso”. Disarikan dari Literatur “Kraton Yogyakarta” oleh R. Murdani Hadiatmaja (Guide Keraton).

Pokokmen komplit plit perjalanan kali ini, dari wisata alam, wisata ekstrim, wisata sejarah, wisata kuliner, wisata moda dan semunya merupakan pusaka khatulistiwa. Dan waktunya kembali ke Jakarta. Perjalanan ke Jakarta dari kawasan Malioboro menggunakan taksi, karena ingin membelu oleh-oleh bakpia khas Jogja, yaitu bakpia kencana yang berapa di jalan Adi Sucipto dekat Ambarukmo Plaza (AMPLAZ).

Sampai airport masih narsis untuk foto-foto sebelum akhirnya boarding pesawat “Lione” dengan nomor penerbangan 551 tujuan bandara internasional Sukarno-Hata. Perjanan dengan “Lione” kali ini sangat tepat waktu banget, meski sempat terkena kuncangan karena cuaca saat akan landing. Akhir perjalanan tidak begitu manis, karena ternyata ngantri taksi sampai 2 jam lamanya, selain karena hujan yang membuat macet, info dari pengemudi yang kita naiki juga banyak pengemudi yang cuti pulang ke kampung. Alamakkkkk …… end(TAMAT)/kd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s