PASIR YANG BERDEBU (CERPEN)

SENJANglarastenan, Suatu hari disudut kota tua, termenunglah gadis dengan senyum sendu seakan menahan asa yang selama ini membelenggu. Terlihat air matanya meleleh dan membuat sungai kecil dipipinya yang ranum.

Gadis, itulah namanya. Sebuah nama yang cantik, secantik wajahnya yang sejuk, tidak hanya fisik tapi hatinya pun bak pualam.

Tak lama ada seorang pemuda yang menghampiri, dan menepuk bahunya dengan lembut sambil tersenyum, “Dinda!”, sapanya kemudian.

Sambil menghela nafas dan mengusap air mata, Gadis pun berusaha tersenyum dan tegar, memberikan senyum yang terbaik untuk sang kekasih.

“Abang!, sahutnya sambil memutar badannya untuk mencari orang yang menyapanya.

“Kenapa Adinda sepertinya habis menangis? Ada apa sayang?” Tanya Afan penuh selidik.

“Maafkan aku, Abang!” Lirih terdengar seperti berbisik.

“Ada apa, dinda? bicaralah, abang tidak akan marah kok”. Sahutnya serasa ingin menghibur sang kekasih.

“Abang, maafkan Gadis ya. Gadis mau bicara jujur sama Abang, Gadis meminta maaf sama Abang, karena selama ini Abanglah tempat Gadis berteduh, berkeluh kesah dan berharap!” tutur Gadis dengan sendu.

Afan hanya termenung dengan hati berkecamuk penuh tanya. Afan seorang pemuda biasa, dari desa yang mengadu nasib di kota besar dengan penuh mimpi. Mimpi mempunyai pasangan hidup yang sayang, yang cantik seperti Gadis, namun ragu karena takut tidak bisa membahagiakannya karena Afan hanyalah seorang pelayan restoran cepat saji dengan penghasilan yang tidak seberapa.

“Bang Afan, sepertinya hubungan kita cukup sampai disini. Maafkan Gadis ya abang! Gadis harus melanjutkan perjuangan hidup di negeri orang, dan Gadis minta Abang tidak berharap lebih dari Gadis” suara Gadis terbata-bata dan ragu, dan Afan pun hanya bisa termenung dan membisu, entah apa yang harus dikatakan?

Setahun sudah berlalu peristiwa itu, dimana keadaan sudah sangat berbeda. Afan sudah tidak lagi menjadi pelayan di restoran cepat saji, karena dengan usaha keras untuk maju demi mengejar impiannya yang tertunda, sehingga Afan berhasil menjadi pengusaha muda yang sukses. Bahkan Afan saat ini memiliki usaha restoran franchise yang cukup terkenal berkat usaha dan kegigihannya.

Suatu ketika, Afan mengendarahi mobilnya yang cukup mewah untuk mengenang cintanya bersama Gadis mantan kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya. Tak disangka, Afan melihat oragn tua Gadis berjalan menuju pemakaman sambil beriringan.

Afan ragu, meskipun rasanya ingin menyapa menunjukkan keberhasilannya, bahwa Afan sekarang bukan Afan yang dulu, Afan dari desa yang hanya seorang pelayan. Lama Afan pandanganya mengikuti perjalanan orang tua Gadis menuju pusara. Orang tua tersebut berdo’a sejenak, dan alangkah terkejutnya pemuda tadi melihat foto mantan kekasih hatinya didalam pusara tadi, dan disamping foto terdapat kalung yang sederhana namun terkesan indah, yang tidak lain adalah kalung pemberian pemuda tadi untuk sang kekasih.

Pemuda tadi hanya bisa mematung, membisu, kelu dan pelan namun pasti air matanya membentuk sungai kecil membasahi pipinya. Orang tua Gadis dengan bijak bercerita, bahwa sebenarnya Gadis tidak kemana-mana. Gadis hanya tidak ingin orang yang sangat disayangi ikut bersedih dan merasakan penderitaanya, karena sebenarnya Gadis terkena kanker. Dan tanpa disadari pemuda tadi bersimpuh menangis sesenggukan diantara pakuan orang tua dan pusara sang Gadis. end

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s