AKULAH RAJANYA

crashJakarta, ibukota negara yang hampir tidak pernah tidur dari keramaian. Jakarta, tempat mengais rejeki, mengadu nasib, mengadu untung dan kota tumpuan pengharapan bagi sebagain orang.

Jakarta yang semakin sesak seakan sudah tidak bisa menampung berbagai permasalah kota-kota besar pada umumnya, yaitu macet. Jakarta, seolah kota dengan hukum rimba dijalan raya, siapa yang berani dia yang berkuasa, seolah pengguna jalan lainnya hanya numpang.

Tidak sedikit gesekan dijalanan menimbulkan keprihatinan, yang salah merasa Dewa, orang lain ibarat cacing. Yang berteriak merasa menang, yang diam belum tentu kalah.

Untuk kesekian kalinya Gus Mo melihat raja kecil yang tamak berkuasa di jalan raya, main serobot petentang petenteng lagaknya seperti kowboy yg menunggang keledai. Ngenes, ngeres, pilu melihat ini hampir setiap hari. Sudah tidak adakah toleransi???

Kita dikenal sebangai bangsa timur jauh, dimana pada masa lalu orang mengenal sebagai bangsa yang santun, ramah dan penuh toleransi. Namun bila melihat sekarang, ibarat bumi dan langit. Contoh budaya ketimuran adalah bagaimana menghormati orang lain, menghormati orang yang lebih tua, dan lain sebagainya.

Bahkan orang tua dulu memanggil anak kecil saja dengan menyebut mas, yang artinya betapa santunnya bangsa kita dulu. Sekarang, tidak sedikit anak-anak sekolah yang memaki orang tua, apalagi di jalanan. Yang naik mobil seharusnya lebih menghormati yang naik motor, yang naik motor menghormati yang jalan kaki dan seterusnya.

Sekarang, AKU lah raja jalanannya, elu semua ada coro, elu semua adalah kecoa buntung, kadal bunting, tai kambing.

Gus Mo hanya bisa mengelus dada, istighfar dan berbisik dalam hati, kenapa kok semua berubah? Kenapa bangsaku jadi seperti ini?? Kenapa bangsaku seperti kehilangan jati diri?? Apa mungkin ini cita-cita demokrasi? Apa mungkin ini cita-cita reformasi??

Dua tiga tahun yang lalu Gus Mo pernah bertemu sesama pemotor yang merasa menjadi raja jalanan di Ciledug Raya, raja tersebut yg mengambil lawan arus berteriak-teriak dan sengaja menabrakkan motornya ke motor Gus Mo. Saat itu Gus Mo tak bergeming, tapi lama-lama karena muak akhirnya buka kaca helm, meski sang raja akhirnya meminta maaf tetapi tidak menyurutkan untuk melawan arus dan sambil berteriak dengan kata-
kata mutiara.

Pernah juga saat itu di daerah menteng, seorang raja kecil yang mengendarai taksi yang cukup terkenal dan dipercaya orang tiba-tiba memepet Gus Mo ke kiri, tanpa sein sebagai tanda kalau mereka akan belok kiri dan akhirnya tersenggolah taksi sang raja. Sang raja pun turun, sambil mengeluarkan taring yang bau tai, dan Gus Mo dengan sabar hanya berdiam menahan amarah sambil leng geleng geleng.

Dan paling fresh, kejadian pagi ini. kejadian di jalan Kebon Sirih, samping kantor bank Mandiri Thamrin. Armada taksi yang cukup ternama mengambil jalur lawan, dimana jalur dipisahkan dengan garis lurus tanpa putus, yang artinya menurut aturan lantas, dilarang melewati menginjak garis tersebut. memang tidak menginjak, tapi taksi tersebut ada di jalur yang salah (berlawanan). Bukan minta maaf, raja kecil yang songong, yang Insya Allah nanti kalau meninggal kupingnya akan BUDHEG justru berteriak, seolah jalan itu milik nenek moyangnya, “Nyawanya udah serep!”, begitu kira-kira.

Gus Mo hanya menghela nafas, ternyata di ibukota bukan rasa nyaman, bukan rasa aman seperti mimpi para prerantau dengan penuh harapan. Entahlah, masih adakah bangsaku yang sohor dengan ramah dan santun???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s