WAJAH IBUKOTA KITA

lumpuh yeeJakarta (nglarastenan) – Musim hujan baru saja dimulai tetapi kepadatan kendaraan di Ibukota Jakarta sudah tidak bisa dikompromi lagi. Entah, siapa yang salah??? Pabrik mobil, pengendara, pengatur regulasi? Ibarat menanyakan mana lebih dahulu, telurkah atau ayam? Mbulet, muter-muter tanpa jawaban yang jelas dan pasti.

Akhir-akhir ini jalanan di Ibukota semakin sering macet dibandingkan hari-hari sebelumnya, bahkan kondisi kering tidak hujan pun macet tak terelakkan.

Ibukota sebagai cermin, ibarat wajah Indonesia Raya. Bila wajahnya buruk, maka orang tidak akan melirik bagian lainnya, karena sudah tidak menarik lagi. Kejadian macet juga dialami Gus Mo semalam, dimana jalur pulang yang biasa di tempuh lehib kurang satu jam tadi malam dengan sabar sambil elus dada ditempuh lebih kurang dua jam.

Seperti juga dikabarkan pengendara lainnya, Nova warga Slipi, jarak dari kantor di Kebon Sirih ke rumah yang berlokasi di belakang Slipi Jaya harus di tempuh hampir tiga jam, padahal hanya berjarak lebih kurang 5 kilometer. Begitu juga dengan Tiara, dari Kebon Sirih ke Petojo harus di tempuh hampir satu jam, padahal kalau jalan kaki dengan santai justru tidak sampai satu jam.

Seperti itulah salah satu bisul yang membuat buruk wajah Ibukota tercinta. Prediksi tahun 2018 Jakarta akan lumpuh sepertinya justru datang lebih awal.

Belum selesai dengan bisul kemacetan yang memperburuk wajah Ibukota, sebentar lagi akan datang puncak musim hujan. Meski pemerintah DKI berusaha secara maksimal, kerja siang dan malam untuk memperbaiki drainase, mengeruk sedimentasi kali yang besar dan kecil, normalisasi waduk dan juga membuat sumur resapan, tetap akan kurang maksimal bila perilaku masyarakat di Ibukota tidak berubah, seperti membuang sampah sembarangan, bahkan menutup drainase didepan rumah dengan beton, belum lagi secara geografi ibukota Jakarta merupakan dataran rendah, dan belum lagi ancaman rob ataupun pasang air laut.

Bisul-bisul dan koreng-koreng yang memperburuk wajah Ibukota tidak akan bisa hilang seratus persen, tetapi dengan semangat warganya, semangat eksekutifnya untuk mempercantik wajah ibukota dengan berbagai inovasi, kesabaran, kepedulian dan tidak mementingkan ego masing-masing sedikit demi sedikit akan bisa terurai dan membuat wajah ibukota bersinar dan tersenyum kembali.

Pertanyaannya, kapan??? Ya kalo nanti kalo semua penduduk Jakarta, ataupun pendatang, para pencari rejeki yang mengais di ibukota mau peduli, ikut merasa memiliki, dan berempati.

Gus Mo kadang berpikiran kurang baik, kalau hanya wargga Ibukota saja yang mobile setiap hari, sepertinya Ibukota tidak akan macet, dan tentu lebih mudah untuk mengatur segalanya. Namun, manusia tidak bisa hidup sendiri dan tergantung dengan lingkungan dan orang lain, dan salah satunya adalah tetangga.

Mimpi ibukota berwajah cantik, menarik akan menjadi kenyataan bila semua bersinergi ingin mempercantik wajah ibukota yang nota bene adalah wajah Indonesia Raya. Mungkin kita tidak perlu memikirkan hal-hal yang besar, kita mulai dari diri sendiri seperti malu bila membuang sampah sembarangan, apalagi sedang naik kendaraan. Malu melanggar aturan berlalu lintas, malu naik menyerobot hak pejalan kaki, malu melihat lingkungan rumah dan kantor kita yang setiap hari kita huni kotor, becek, penuh polusi, dan lain-lain.

Kalau sebagian masyarakat ibukota yang mengais rejeki ke ibukota, tidak peduli, tidak punya malu maka tidak aneh dan tidak heran bila ibukota menjadi Ibukota dengan julukan si Buruk Rupa akan lumpuh, akan tenggelam oleh ketamakan, oleh ego sentris masing-masing yang membuat bisul di wajah Ibukota menjadi Kanker yang semakin sulit disembuhkan dan membawa bencana lebih besar. Mari kita mulai dari sekarang, dari diri kita agar wajah Ibukota menjadi cantik dan lebih baik, serta menarik. end/nglarastenan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s