WISRAWA & DEWI SUKESHI

Dewi Sukesi Solo

Dewi Sukewi//nglarastenan

Bicara cinta seperti tidak ada habisnya selama manusia masih ada. Melihat ke masa lalu, termasuk cerita dari barat , yaitu Romeo dan Juliet, cerita Jawa ada kisah asmara antara Panji Asmarabangun dan Dewi Galuh Candrakirana yang jelita seperti bidadari. Dikisah pewayangan, baik Mahabarata dan Ramayana selalu ada kisah asmara yang melegenda, seperti Rama dan Sinta, Kamajaya dan Dewi Ratih, dan lain-lain.

Para penggemar wayang tentunya sudah tahu tentang cerita cinta Prabu Wisrawa dari Kerajaan Lokapala dan Dewi Sukesi dari Putri Prabu Sumali dari Kerajaan Alengkadiraja.

Alkisah, di Kerajaan Alengkadiraja dibuka seyembara untuk memperebutkan Putri Alengka, yaitu Dewi Sukesi yang sangat jelita, lembut suaranya, halus kulitnya, membuat terpesona orang yang melihatnya.

Dewi Sukesi putri Prabu Sumali Raja Alengkadiraja dan Dewi Danuwati dari Kerajaan Mantili. Dewi Sukesi mempunyai adik raksasa yang dikemudian hari manjadi wakil Raja Alengka, yaitu Patih Prahasta.

Kecantikan Dewi Sukesi yang alami tanpa operasi sangat terkenal dimana-mana, bahkan sudah menjadi pergunjingan diwarung-warung kopi, pangkalan ojek bahkan sudah menjadi santapan sehari-hari para infotaiment. Pokoknya kecantikan Dewi Sukesi mengalahkan artis-arits K-pop, J-pop yang sering wara wiri di televisi.

Banyak pria tampan yang datang untuk melamarnya, yang tidakhenti menebar janji dan pamer harta benda hasil kolusi, korupsi maupun nepotisme. Bahkan ada yang menggadaikan becak agar bisa tampil menawan untuk memikat Dewi Sukesi.

Beribu pelamar antri untuk presentasi di pendopo hanya untuk memikat hati sang putri. Persyaratan untuk mengikuti sayembara ini telah diinformasikan melalui selebaran, radio, televisi dan bahkan di sosial media serta berita online. Siapa pun berhak mempersunting Dewi Sukesi, apabila dapat mempresentasikan Sastra Jendra Yuningrat dengan baik, serta dapat mengalahkan pamannya Ditya Jambumangli. Meski syarat kedua ini sebenarnya akal-akalan Jambumangli yang sebenarnya jatuh hati pada Dewi Sukesi.

Sayembara ini bahkan menjadi trending topik berminggu-mingu di sosial media, apalagi sayembara ini juga menyertakan foto Dewi Sukesi yang sangat jelita. Tak luput, berita tersebut sampai juga di kerajaan Lokapala, dimana saat itu kerajaan Lokapala juga sedang ada suksesi.

Prabu Wisrawa yang baru berusia empat puluhan lengser dari tahta dan digantikan oleh anaknya, yaitu Prabu Wisrawana atau Danaraja, karena Prabu Wisrawa yang sudah kenyang akan kekuasaan dan keduniawian akan menepi untuk menjadi seorang sesepuh, yaitu resi.

Melihat berita sayembara dan foto Dewi Sukesi, maka Prabu Wisrawa dan Prabu Danaraja sepakat untuk menjadikan Dewi Sukesi sebagai Permaisuri Danaraja di kerajaan Lokapala. Prabu Daraja juga sepakat bahwa ayahandanya menjadi duta untuk melamar Dewi Sukesi.

Dengan mengendarai pesawat jet kerajaan berwarna pink, rombongan resi Wisrawa akhirnya dapat mendarat mulus dipangkalan udara kerajaan Alengkadiraja. Karpet merah pun dibentangkan untuk menyambut rombongan kerajaan, bahkan kalung bunga melati disiapkan untuk menyambut para pelamar, termasuk Prabu Wisrawa.

Rombongan disambut oleh Prabu Sumali, dan dijamu makan malam ala kerajaan Alengka, dengan hidangan istimewa seperti pepes ikan arwana, nasi kebuli dengan koki yang didatangkan dari Turki, rendang batokok yang langsung didatangkan dari Sumatera Barat, sego liwet dari Solo, gudeg dari Jogja serta jajan pasar seperti selendang mayang khas betawi, bir pletok, rujak, dan lain-lain.

Tidak lengkap rasanya jamuan makan tanpa hiburan, maka Prabu Sumali mendatangkan campursari dengan penyanyi yang cantik-cantik dengan suara yang menggoda, serta lekuk tubuh yang terbalut kain menambah suasana menjadi meriah.

Setelah jamuan makan selesai dan menyampaikan maksud serta tujuan datang ke Alengka, maka para tamu diantar ke penginapan yang telah disediakan panitia. Penginapannya pun dipilih yang paling dekat dengan istana serta paling bagus tempat, serta pelayanannya. Fasilitas penginapannya juga wah, karena ada kolam renang air hangat, air dingin dan spa, agar esok pada saat mengikuti sayembara badan segar dan bersemangat.

Keesokan harinya, auditorium yang telah disulap untuk perhelatan juga sudah dihias sedemikian rupa, dan pasukan pengamanan juga disiagakan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Syarat pertama yaitu mengalahkan papan Dewi Sukesi, yaitu Ditya Jambumangli. Jambumangli yang mempunyai badan tegap dengan otot bisep yang kekar, karena selain suka angkat berat, Jambumangli setiap pagi memakan putih telor rebus sebanyak 2 (dua) karung.

Sudah tiga hari berturut-turut sayembara dilaksanakan, tetapi tak satupun yang dapat mengalahkan Jambumangli. Sampai akhirnya giliran Resi Wisrawa mendapatkan giliran berikutnya. Pertandingan yang tadinya biasa-biasa saja itu akhirnya semakin meningkat dan seru, bahkan sudah hampir dua hari, tetapi belum selesai juga. Pada hari ketiga, terlihat Jambumangli mulai keteter, tetapi karena tidak ingin dipermalukan Jambumangli membabibuta menyerang Wisrawa, dan akhirnya Wisrawa dapat mengalahkan Jambumangli.

Sayembara belum selesai, karena syarat kedua harus dituntaskan untuk dapat memboyong Dewi Sukesi. Panitia memberikan waktu semalam untuk Wisrawa, agar dapat memulihkan tenaga dan pikirnnya.

Hari berikutnya setelah dirasa cukup, maka dipanggil Wisrawa dan Dewi Sukesi oleh Prabu Sumali untuk melanjutkan sayembara. Pada saat itu formula Satra Jendra merupakan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi nilainya, maka pada saat presentasi tidak boleh ada seorangpun yang tahu. Panitia kerajaan akhirnya menyiapkan kamar penginapan kelas President Suite untuk acara tersebut.

Presentasi yang awalnya sangat serius dan hati-hati, karena jangan sampai ada metode, ataupun modul yang terlewat. Dewi Sukesi mengikuti dan mengamati dengan seksama, dan sekali-sekali bertanya. Wisrawa sebenarnya sudah mengetahui jika Dewi Sukesi sebenarnya sudah tahu tentang isi dan makna yang terkandung dalam kitab Sastra Jendra dari cara dia bertanya.

Presentasi yang tadinya sangat kaku tersebut, lama-lama menjadi cair, terkadang diselingi dengan senyuman, atau candaan dan bahkan saling mencuri pandang. Sukesi mulai mengagumi pria yang yang sedang mempresentasikan sastra tersebut, dan begitu pun sebaliknya.

Ditempat yang sunyi dan syahdu berduaan, tanpa sengaja tangan Wisrawa menyentuh tangan Dewi Sukesi dan tanpa terasa, dua makhluk berlainan jenis tersebut larut dalam buaian asmara.

Prabu Sumali yang was-was menunggu anaknya tidak keluar-keluar, akhirnya memutuskan untuk membuka paksa pintu penginapan. Alangkah terkejutnya Prabu Sumali mendapati Dewi Sukesi dan Wisrawa sedang bermesraan, dan saat itu juga mereka di panggil untuk dikawinkan.

Bukan jaminan orang yang begitu suci, selama masih sebaga manusia yang berbadan fisik, selama itu pula masih bisa terjerat oleh godaan yang terlihat manis tetapi akan mengakibatkan keterpurukan.

Akhirnya Wisrawa yang niat awalnya melamar Dewi Sukesi untuk anaknya, justru tergoda dan memperistri Dewi Sukesi. Pasangan Wisrawa dan Dewi Sukesi akhirnya melahirkan anak pertama sampai dengan ketiga berupa raksasa, yaitu Rahwana, Kumbakarna, dan Dewi Sarpakenaka yang merupakan penggambaran sifat angkara. Sedangkan setelah sadar, Wisrawa dan Dewi Sukesi memperoleh anak kembali yaitu Gunawan Wibisono, dengan do’a dan puji syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Guakiskendha, rongewupatbelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s