HINGAR BINGAR PILPRES 2014

karnotanding+

Kalah jadi abu, menang jadi arang//ilustrasi gambar: mbah google

Sejarah baru tercatat dilembaran harian Negara Republik Indonesia, yaitu Pilpres 2014. Seperti kita ketahui bersama, keriuhan Pilpres ini bahkan gaungnya sudah kita rasakan sebelum Pileg pada 9 April 2014 yang lalu. Semua penuh antusiasme, dan golongan putih yang selama ini dominan pun sekarang mulai berkurang seiring riuhnya perhelatan akbar ini.

Dalam pewayangan, (menurut penulis) pewayangan di ambil dari kata wayang, wewayangan (bayangan) gambaran kehidupan manusia yang. Dunia pewayangan yang sudah berabad-abad pun ada kisah Banowati dan Arjuna, maka di dunia kita sering membaca, melihat berita perselingkuhan di dunia yang nyata.

Di dunia pewayangan ada pemilihan senopati, dan sudah disetujui oleh forum kerajaan tetapi tetap ada yang ingin merebut tugas tersebut dengan cara-cara yang tidak biasa, dalam hal ini dikisahkan dalam diri Boma Narakasura serta Gatutkaca. Boma yang dalam kisah pewayangan merupakan kakak seperguruan Rahwana Raja Alengka, maka tidak heran tabiat dan nafsu keduniawiannya pun tak jauh berbeda. Boma menjadi saudara tua seperguruan Rahwana, karena Boma lebih dulu menerima wejangan ilmu sakti dijamannya (Boma bersemayam ditelinga Rahwana).

Dalam pewayangan juga ada kisah tauladan tiga ksatria, yang kemudian terkenal dalam Serat Tripama. Ksatria tersebut, yaitu Patih Suwanda atau Sumantri, Arya Kumbakarna (adik Rahwana) serta Prabu Karna atau Basukarna saudara kandung Pandawa. Bagaimana kisah tauladan tersebut, antara lain ketiga ksatria yang teguh pendirian untuk membela negara dan keyakinannya, meskipun akan berhadapan langsung dengan saudaranya sendiri.

Terakhir kita sering melihat ataupun mendengar kisah Bharatayuda, baik cerita di televisi, cerita bersambung dimedia cetak, media elektronik seperti, radio dan televisi. Kisah Bharayuda bukan hanya menceritakan kalah dan menang, tetapi berbagai kepentingan di dalamnya.

Perang Bharatayuda ini menceritakan kisah perang saudara antara Kurawa dengan Pandawa. Perang saudara ini digambarkan sangat dahsyat, bahkan tidak hanya melibatkan satu kerajaan, tetapi banyak kerajaan. Perang Bharatayuda juga melibatkan para sesepuh yang sudah purnakarya dari keduniawian yang akhirnya tetap turun ke kancah peperangan. Bagiamana Resi Bisma gugur oleh cucunya sendiri (Srikandi), ataupun Abimanyu yang gugur karena sumpahnya dengan cara mengenaskan.

Hingar bingar pilpres 2014 ini mengingatkan penulis akan cerita Bharatayuda tersebut, dan yang paling membuat prihatin dalam pilpres kali ini banyak sekali fitnah ataupun perilaku para pendukung yang sangat-sangat tidak terpuji.

Penulis kemudian merenung, apakah benar ini akan seperti cerita tersebut, sehingga harus bersih? Semua saling mengklaim keyakinan masing-masing, dan semua membela jagoan masing-masing. Coba kita tengok kisah diatas, banyak yang gugur dalam perang karena membela Kurawa, karena membela Pandawa dan semua membawa korban yang tidak sedikit.

Haruskah kisah Bharatayuda ini akan terjadi? Semoga semua bisa saling menjunjung tinggi negeri tercinta ini. Perang hanya salah satu solusi, tetapi alangkah baiknya bila solusi dicari yang damai sebagai jalan akhir yang terbaik, tanpa pengorbanan, saling menghormati sesama saudara sendiri. Pepatah Jawa yang sering kita dengar, bahkan disetiap pertunjukan wayang kulit, yaitu “ nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, yang maknanya kurang lebih menjadi pemenang tanpa harus mengerahkan masa dan menjadi pemenang tanpa merendahkan lawannya”. Sehingga negara besar ini tidak tercerai berai dan akan menjadi “negara panjung punjung loh jinawi kerta tentrem tur raharja”, menjadi negara “Baldatun, toyyibatun warabbun ghofur”, amiiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s