MALAM MINGGU MAS TEDJO

kuntilanak

Ilustrasi gbr: mbah google

Taman Sendangsari, Waduk Gajah Mungkur. Air yang membentang seluas mata memandang. Perahu-perahu wisata hilir mudik dengan aneka rupa, dan dikejauhan terlihat para nelayan mengayuh biduk sampan pulang untuk memberi harapan untuk keluarganya.

Terlihat ada keluarga yang sedang bercengkerama menggelar tikar di bawah pohon bercanda dan bersukaria. Ada sepasang muda mudi-mudi yang hilir mudik bergandengan tangan, ada pula sepasang muda mudi yang berjalan mesra dengan tangan si pemuda memeluk pinggang pasangannya, sedangkan kepala si pemudi bersandar di bahu si pemuda, mesranya.

Kebanyakan pengunjung mengekpresikan kegembiraan, namun diantara banyaknya pengunjung ada seseorang yang tidak menampakan wajah gembira. Mas Tedjo! Ya, dia duduk sambil menerawang jauh ke selatan, menyusuri luasnya air WGM. Bola matanya kadang membulat kadang terpejam dan kadang pula mengernyitkan jidat, mengingat masa lalu.

Kala Mas Tedjo menghela nafas panjang, terlihat langit yang membiru dimusim kemarau. Saat matanya terpejam, terlihat fatamorgana saat dia masih bersama Sumini, gadis yang sangat dicintainya. Sumini gadis manis sedunia, yang mengalahkan segala rasa manis didunia ini. Madu yang paling manis di dunia saja apabila disandingkan dengan Sumini akan tawar rasanya, malu karena kalah manis sama Sumini.

Dengan bersandar batu kapur yang terletak diantara rimbunnya pohon angsana, dibalik penjual wader goreng, Mas Tedjo menyilangkan tangan di bawah kepalanya. Seakan meratapi kepedihan hatinya yang luluh lantah oleh badai asmara, yang menyapu raga dan batinnya.

Riak ombak air waduk dan kerlap kerlip kunang-kunang tak jua menghibur hati Mas Tedjo yang sedang dilanda prahara. Entah sudah sekian kali Mas Tedjo tiduran kemudian duduk lagi, tidur lagi dan duduk lagi. Saat yang keseikian kali tersadar dari lamunannya, alangkah kagetnya dan terkejutnya, sampai seperti orang yang tersedak biji buah kedondong dari Alas Kethu. Tanpa sengaja Mas Tedjo beradu pandang dengan seorang gadis cantik berambut panjang yang duduk tidak jauh darinya yang juga seorang diri.

Perempuan dengan tubuh semampai dan rambut tergerai dengan indah. Wajahnya yang sedikit agak pucat, tapi rona kecantikannya tidak luntur oleh sinar rembulan malam minggu ini. Umurnya sekitar 25 tahun, dengan bibir yang terlihat ranum oleh samar sinar yang tidak sempurna. Gadis tersebut sepertinya tidak sadar kalau duduknya tidak sempurna, sehingga bagian yang penuh pesona terlihat oleh Mas Tedjo.

Hati Mas Tedjo seperti di aduk-aduk mesin molen, seakan acuh dengan bayangan wajah Sumini yang mengejarnya selama ini. Mas Tedjo sekan memdapatkan pengganti Sumini yang sempurna dimatanya.

Senyum gadis itu tidak kalah manisnya dengan senyum Sumini yang telah mencampakkannya. Mata indahnya seperti mata Sumini, yang seperti mengejar kemanapun dia pergi.

“Fuihh… aku tidak boleh GE-ER!” gumamnya.
Secara kelelakian, Mas Tedjo kembali berpaling untuk menatap gadis yang duduk sendirian yang tidak jauh darinya. Hatinya seperti seperti bawang goreng, yang dipotong halus kala gadis itu membalas anggukannya.

“Cukup, aku tidak boleh berharap lebih!” batinnya lirih.

Mas Tedjo pikirannya menerawang tidak karuan, seperti dihadapkan pada persimpangan jalan antara masa lalu yang indah dan mimpi yang sempurna.

“Boleh saya duduk disini?” tanya Mas Tedjo pada gadis tersebut.

“Silakan!” jawab gadis tadi dengan lembut.

Hati mas Tedjo seperti di aduk-aduk seperti bihun yang dicampur kecap untuk pelengkap nasi uduk.

“Kok sendirian?” tanya Mas Tedjo.

“Nggak sendiri kok, kan ada mas!” kata gadis tersebut sambil mengerlingkan matanya yang bulat.

“Nama saya Tedjo, Tedjo Buwono lengkapnya. Kalau situ siapa namanya?” Tanya mas tedjo kemudian.

“Nike!” sahutnya.

“Kok malam minggu tidak ngapel mas?” tanya gadis tersebut.

“Ngapelin siapa? Pacar gak punya! Namanya bagus banget, seperti nama artis” jawab Mas Tedjo.

“Bohong banget sih, masak orang seganteng Mas Tedjo jomblo! Pilih pilih kali?” gadis itu melanjutkan.

Singkat cerita, dari obrolan pindah ke macam-macam taufik, dari pegangan tangan yang tidak sengaja sampai dengan peluk cium yang menggoda. Bulan yang memang belum sempurna itu akhirnya pergi ke peraduannya, dan mengukir kisah sejoli yang sedang dilanda badai asmaranya.

Sampai akhir cerita, Nike pun pamit untuk pulang, dan Mas Tedjo pun dengan senang hati untuk mengantarkannya, agar tahu dimana rumahnya. Tetapi, setelah berpamitan Nike pun seperti terbang melayang, hilang di balik rimbun pohon-pohon angsana, hilang entah kemana. Kaget, takut, kalut menjadi satu berkecamuk didalam dada Mas Tedjo, dan tanpa pikir panjang dia lari meninggalkan tempat itu sambil teriak minta tolong.

Ternyata Mas Tedjo dapat kenalan Sundel Bolong. end

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s