CINTAKU BERTEPUK SEBELAH TANGAN

PURNAMA

Ilustrasi gbr: mbah google

Waktu berlalu sangat cepat, sudah satu minggu aku menjalani hubunganku dengan pacarku, dia bernama Sumiyem Agatha. Aku sangat sayang banget sama dia, begitu pun sebaliknya. Sum Agatha yang baik, manis, cantik, dan juga pintar.

Sejak jadian itu, setiap malam aku selalu membayangkan Sum menjadi ibu dari anak-anakku, menjadi penghibur disaat aku sedih, menjadi penguat disaat aku rapuh. Kupandangi langit kamarku setiap malam, kupejam mataku tapi tak jua tertidur. Sum, kamu seperti mengikutiku kemanapun aku pergi, seakan berkejaran dengan pikiranku yang rindu akan kasihmu. Tersadar Mas Tedjo dari lamunannya karena jatuh dari tempat tidurnya.

Malam minggu ini Mas Tedjo janjian dengan Sum ditempat dimana mereka berdua selalu janjian memadu kasih, merenda asa meniti gelombang asmara. Kadang mengalun syahdu, kadang merebak penuh canda dan tawa ria. Mas Tedjo yang cintanya sudah seperti kepompong, tidak berkutik dan selalu ingin, dan ingin bersanding setiap waktu dengan Sum, seolah lengket seperti permen karet, nempel seperti kain pel.

Malam minggu yang sempurna dengan bulan purnama yang bulat, seperti menambah kecantikan Sum malam ini. Hati Mas Tedjo bergolak saat jari-jemarinya menyentuk jari lentik nan lembut Sum.

“Sayang, kamu tahu betapa indahnya purnama itu di malam ini?” tanya Mas Tedjo membuka malam yang sejuk di plaza bendungan waduk.

“Indah sekali, kangmas. memagnya kenapa?” tanya Sum dengan kerling mata yang penuh bintang.

“Dinda, malam ini aku boleh tidak mengantarmu pulang?” tanya Mas Tedjo penuh selidik.

“Bolehlah masak iya gak boleh. Kok tumben Mas Tedjo mau mengantarku pulang?” tanya Sumiyem kemudian.

“Ya biar besok aku bisa ke rumah kamu, jadi aku bisa kenalan dengan orang tua di Sum!” lanjut Mas Tedjo, kemudian.

Mas Tedjo tidak mau kena tipu untuk kedua kalinya, karena dia sudah terlanjur sayang dan benar-benar cinta mati dengan Sumiyem Agatha. Beda dengan Sumini yang telah mencampakannya, beda dengan Nike yang ternyata sundel bolong.

“Mas, pulang yuk, udah malam nih!” ajak Sum pada Mas Tedjo yang sedang melamun jauh menerawang masa depan (kek dukun aja menerawang, Red.).

“Eh, iya… ayo dik!” jawab Mas Tedjo dengan gugup.

Kedua makhluk yang sedang dimabuk asmara itu pun berdiri dari duduknya, kemudian naik motor boncengan dengan mesranya. Motor yang dinaikin sepasang pemuda pemudi yang dimabuk cinta menderu, membelah malam yang dingin di kota gaplek. Setelah melawati lampu merah ponten ke arah timur, Sum pun berbisik lirih namun lembut ditelinya Mas Tedjo dengan mesranya.

“Mas, nanti setelah jembatan pokok belok kiri ya mas!” pinta Sum.

“Siap sayang, demi mertua aku siap mengantar adinda kemana pun!” jawab Mas Tedjo genit.

Tidak lama, Mas Tedjo dan Sumiyem pun telah tiba di rumahnya., karena sudah malam orang tua Sumiyem sudah lelap dibuai rembulan, dan Mas Tedjo pun pamit dan berjanji besok akan menjemputnya di rumah ini untuk jalan-jalan.

Mas Tedjo pulang dengan hati lapang, karena telah mengantarkan kekasih hati dirumah. Sambil bersiul tanda kemenangan dengan kepala penuh dengan rekayasa bagaimana besok menghadapi calon mertua.

Singkat cerita, jam 8 pagi Mas Tedjo sudah mandi dan berdandan rapi, tak lupa memakai pomed agar lebih memesona. Setelah berkaca beberapa saat, Mas Tedjo pergi ke dapur, mengambil kelapa parut dan dilulurkan ke tangan dan kakinya agar tidak terlihat bersisik seperti ikan, atau ular.

Semua beres, dan meluncurlah Mas Tedjo ke rumah Sumiyem Agatha sejuk. Bayangan senyum Sum yang maniiisssss, jeri lentik nan lembut.

Tidak lama, Mas Tedjo pun sampai ke rumah Sum yang semalam, sambil thingak thinguk. “Semalam kan aku nganter dik SUM kesini, kok gak ada rumah?” gumam Mas Tedjo. Lama-lama dan lama… kok kuburan???

Ngacir Mas Tedjo pulang sambil gemeter. “Ternyata cintaku bertepuk sebalah tangan” lirih Kuntilanak, meratap sedih sambil melihat asap tebal putih dari sepeda motor. end

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s