SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

ilustrasi gambar://mbahgugelAkhir-akhir ini kalimat, bait syair dalam tembang Kinanti yang ditulis dalam “Serat Witaradya” oleh Pujangga besar dimasa itu Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) dari Kasunanan Surakarta menjadi trending topik diberbagai media sosial.

Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti yang kurang lebihnya bermakna sifat-sifat keberanian, kedigdayaan dan keangkaramurkaan dapat dihancurkan oleh kesabaran dan kelembutan (Panembah). Saya contohkan dalam musim hujan seperti sekarang ini air, meskipun sifatnya cair, lembut dan lemah tetapi dibalik kelembutan air dapat meluluhlantahkan batu, pohon bahkan rumah dan menerjang apapun yang dilewatinya.

Sebelum menganalisa dan mengkaji bait tembang Kinanthi tersebut, sebaiknya kita melihat secara utuh tembang tersebut dan apa makna dari sastra Ranggawarsito yang adiluhung, dan berikut ini bait dari tembang kinanthi tersebut.

     jagra angkara winangun;
     sudira marjayeng westhi;
     puwaka kasub kawasa;
     sastraning jro wedha muni;
     sura dira jayaningrat;
     lebur dening pangastuti

Serat Witaradya juga disebut Serat Aji Pamasa, yang menceritakan Putra Mahkota di kerajaan Witaradya yaitu Raden Citrasoma yang digadang menggantikan ayahandanya Prabu Aji Pamasa.

Cerita singkat perihal tersebut, seperti kami kutip berikut ini.

Raden Citrasoma yang menginjak dewasa melihat istri dari abdi dalem kerajaan yang bernama Ki Tumenggung Suralathi, dan seketika jatuh hati, dimabok asmara. Nyai Pamekas, istri dari sang Tumenggung, yang merupakan istri termuda dan berusia tidak jauh berbeda dengan sang pangeran. Muda, cantik, pintar ibarat seorang malaikat, angel berwujud manusia.

Nyai Pamekas yang di karuniai kecantikan yang sempurna, dengan kulit yang putih mulus, lembut bagai sutra, tinggi semampai, bibir ranum, pipi yang tanpa jerawat, dan payudara bagai kelapa gading, pinggang yang rambing, tumit yang membulat, memesona yang melihatnya dan mengagumkan.

Suatu hari, pada saat sang Tumenggung menjalankan tugas negara, dikala Nyai Tumenggung sendirian, Raden Citrasoma sengaja ke Katumenggungan dengan maksud menemui Nyai Pamekas dan mengatakan maksud, tujuan dan keinginannya.

Bukan dengan teriak-teriak, tetapi dengan halus dan senyum yang terus mengembang Nyai Tumenggung tidak bisa menerima Sang Pengaran yang sedang di mabok asmara, tetapi justru mengingatkan Sang Putra Mahkota, bahwa kehendak dan keinginannya tersebut bukanlah sifat seorang satrya karena memperkosa kebaikan, menerjang kesusilaan. Seorang Putra Mahkota kok ingin merebut istri dari bawahannya, sehingga Nyai Tumenggung mengingatkan Sang Pangeran untuk mengurungkan niatnya.

Mendengar masukan tersebut bukannya menerima, tetapi asmara dan keinginan Sang Pangeran justru semakin menjadi.

Nyai Tumenggung bukan perempuan biasa, yang silau oleh harta dan kedudukan, melainkan perempuan pilihan yang luhur budi pekertinya serta IQ nya pun tinggi diatas rata-rata. Menghadapi hal tersebut tetap tidak mempan dan tetap menjaga keluhuran dan kesucian seorang wanita sehingga terlepas dari perbuatan yang nista.

Dengan lembut dan senyum yang tetap menawan meminta Sang Putra Mahkota untuk membuat semua abdi dalem serta semua orang di Katumenggungan agar tertidur tanpa terkecuali dengan demikian tidak ada orang yang mengetahui apa pun yang dilakukan.

Pangeran Citrasoma bukan seperti orang kebanyakan, tetapi seorang Pengarena yang telah dinobatkan menjadi Putra Mahkota yang kelak dikemudian hari akan menjadi Raja menggantikan ayahandanya. Tidak sulit mengabulkan permintaan tersebut, karena memang sudah mendapatkan banyak ilmu kanuragan, pemerintahan dan lain-lain. Seketika itu pula semua tertidur pulas, bahkan meski ada bom sekalipun tidak akan bangun, bahkan ada yang mimpi mancing dengan strike ikan pelagis yang cukup besar, ada yang mimpi janjian teman yang didapat di jejaring sosial.

Sang Pangeran segera ingin merasakan dan melampiaskan asa yang bergejolak dan berkecamuk didalam dadanya, tetapi keinginan tersebut dicegah oleh Nyai Tumenggung. Dengan senyum dan tutur kata yang lembut Nyai Pamekas menyampaikan, bahwa masih ada yang belum tidur yaitu Sang Pangeran dan dirinya, dan selain itu ada yang tidak pernah tidur yaitu Sang Pencipta, yang menguasai dunia serta isinya termasuk kerajaan Witaradya.

Mendengar ucapan tersebut Sang Putra Mahkota diam seperti patung, dan akhirnya merasakan bahwa perbuatannya salah, dan justru seperti mendapat anugerah, mendapatkan anuegrah dari Sang Maha Mengetahui.

Bukan marah, tetapi Sang Pangeran justru berterimakasih kepada Nyai Tumenggung dan meminta maaf karena telah bertindak yang tidak seperti perilaku seorang pangeran seorang yang nantikan akan menjadi Raja, yang menjadi pelindung bagi masyarakat di negaranya.

Dari kisah dongeng tersebut, kita dapat menarik dan menyimpulkan, maknda dari “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”. Seorang perempuan yang lembut, bisa meluluhkan keangkaramurkaan dengan tidak merasa dikalahkan, tidak pula dengan kecongkakan, tidak pula dengan nafsu tetapi dengan kelembutan.

Bisa disimpulkan pula, bagaiamana apabila seorang yang punya kekuasaan, mempunyai kekuatan untuk menghacurkan tidak terima diberikan masukan, diluruskan jalannya yang nyasar ke jalan yang benar, jalan yang tidak menyengsarakan dirinya dan orang lain. Masalah tidak akan selesai, justru akan semakin tidak menentu. Pangastuti, kebaikan, pribadi yang syukur sehingga tercipta suatu kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, kerta tentrem tur raharja. Bukan api di balas dengan api, tetapi api padam oleh air, oleh kelembutan dan kesejukan.

Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti, semoga marwah dari kalimat tersebut tidak hanya menjadi pengihas tetapi dapat mengilhami penghuni seluruh negeri ini, pempimpin dan yang di pimpin. Pempimpn tidak menghancurkan rakyatnya yang mengingatkan perbuatannya yang tidak benar, yang salah yang melanggar norma kepatutan. End

Disarikan dari berbagai sumber.#Nglarastenan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s