JAMAN EDAN II

Wujude semar
ning kok watake welu?
iku ngono jenenge semar palsu
Semar iku pamomong sejati
ngelingake sing padha lali

ana lakon carangan Semar mantu
para penggedhe tulus anggone mbantu

saiki uga ana Semar sing arep mantu
golek modal kathik luru-luru
iku ngono jenenge semar palsu

Wujude Petruk
senenge ndombani kang maruk
iku ngono jenenge petruk palsu
ora payu, amarga modale mung idu

Ana maneh wujude sengkuni
senenge adul-adul lan golek bathi
apa maneh yen wis korupsi!
kabeh ora ana kang wani

alesane golek redana
amrih negara akeh bandha, lan kawula uripe mulya
pungkasane mung kanggo mblendhuke wetenge dhewe
iku sengkuni jaman saiki jenenge

apa iki jaman edan?
sing tindak dora padha ura-ura
sing welas asih padha disingkrih

Akankah nasib Batu Akik akan senasib seperti Anturium???

batu akik #nglarastenan

Tourqois-Gold/nglarastenan

Fenomena atau memang ada yang memainkan? Ya, akhir-akhir ini ada yang kembali mencuat, membuat heboh dimana-mana orang berburu batu akik. Tua, muda, anak-anak ataupun petani, buruh, pelajar, mahasiswa, pegawai / karyawan maupun para owner perusahaan rame-rame berburu batu akik.

Kejadian ini mirip kejadian beberapa tahun silam, dimana tanaman anturium begitu digandrungi seantero Nusantara, dari desa sampai kota. Dan, harganya tak masuk diakal, mirip seperti perburuan batu akik saat ini.

Pada saat anturium harganya melampaui harga logam mulia, yang pada saat itu membuat penulis geleng-geleng kepala. Jamak ditemukan pada saat itu, anturium ibarat istri, tiap malam di taruh dikamar biar aman dari para pegundal maling tengik.

Makhfum juga, karena harga satu pohon anturium dengan bonggol harganya misa mencapai milyaran rupiah pada saat itu. Bahkan pernah ada korban tanah longsor yang tertimbun tanah berikut anturiumnya yang beberapa hari sebelumnya ditawar milyaran rupih, tetapi tidak di berikan.

Siapa yang tidak kenal dengan anturium jenmani, anturium gelombang cinta, dan lain-lain. Bahkan banyak orang yang tadinya tidak tahu jadi ikut-ikutan untuk mengoleksi. Seperti roda kehidupan, anturium pun terjun bebas seperti harga minyak saat ini, dan akhirnya sekarang banyak anturium dibuang, dibiarkan tak terurus.

Pun demikian saat ini dengan batu akik. Dimana-mana orang heboh berburu batu. Dari kampung-kampung sampai gang-gang kecil banyak penjual jasa untuk memoles atau pun memberikan ikatan. Tidak mahal memang, karena menurut pantauan jasa poles per buah batu berkisar antara 15 – 35 ribu, tetapi para penjual jasa tersebut dalam sehari bisa menyelesaikan labih dari 20 buah batu cincin, itu belum penjualan pernik-pernik lain seperti cincin pengikat batu akik.

Berapa besar duit yang berputar saat ini dalam transaksi batu akik ini? Pasti sangat besar, mengingat jumlah pecinta batu ini semakin hari semakin bertambah.

Akankah nasib pecinta batu akik akan seperti booming dikala anturium, euphorbia, dan lain-lain menjadi primadona seperti waktu yang telah lewat? end. #nglarastenan

SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

ilustrasi gambar://mbahgugelAkhir-akhir ini kalimat, bait syair dalam tembang Kinanti yang ditulis dalam “Serat Witaradya” oleh Pujangga besar dimasa itu Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) dari Kasunanan Surakarta menjadi trending topik diberbagai media sosial.

Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti yang kurang lebihnya bermakna sifat-sifat keberanian, kedigdayaan dan keangkaramurkaan dapat dihancurkan oleh kesabaran dan kelembutan (Panembah). Saya contohkan dalam musim hujan seperti sekarang ini air, meskipun sifatnya cair, lembut dan lemah tetapi dibalik kelembutan air dapat meluluhlantahkan batu, pohon bahkan rumah dan menerjang apapun yang dilewatinya.

Sebelum menganalisa dan mengkaji bait tembang Kinanthi tersebut, sebaiknya kita melihat secara utuh tembang tersebut dan apa makna dari sastra Ranggawarsito yang adiluhung, dan berikut ini bait dari tembang kinanthi tersebut.

     jagra angkara winangun;
     sudira marjayeng westhi;
     puwaka kasub kawasa;
     sastraning jro wedha muni;
     sura dira jayaningrat;
     lebur dening pangastuti

Serat Witaradya juga disebut Serat Aji Pamasa, yang menceritakan Putra Mahkota di kerajaan Witaradya yaitu Raden Citrasoma yang digadang menggantikan ayahandanya Prabu Aji Pamasa.

Cerita singkat perihal tersebut, seperti kami kutip berikut ini.

Raden Citrasoma yang menginjak dewasa melihat istri dari abdi dalem kerajaan yang bernama Ki Tumenggung Suralathi, dan seketika jatuh hati, dimabok asmara. Nyai Pamekas, istri dari sang Tumenggung, yang merupakan istri termuda dan berusia tidak jauh berbeda dengan sang pangeran. Muda, cantik, pintar ibarat seorang malaikat, angel berwujud manusia.

Nyai Pamekas yang di karuniai kecantikan yang sempurna, dengan kulit yang putih mulus, lembut bagai sutra, tinggi semampai, bibir ranum, pipi yang tanpa jerawat, dan payudara bagai kelapa gading, pinggang yang rambing, tumit yang membulat, memesona yang melihatnya dan mengagumkan.

Suatu hari, pada saat sang Tumenggung menjalankan tugas negara, dikala Nyai Tumenggung sendirian, Raden Citrasoma sengaja ke Katumenggungan dengan maksud menemui Nyai Pamekas dan mengatakan maksud, tujuan dan keinginannya.

Bukan dengan teriak-teriak, tetapi dengan halus dan senyum yang terus mengembang Nyai Tumenggung tidak bisa menerima Sang Pengaran yang sedang di mabok asmara, tetapi justru mengingatkan Sang Putra Mahkota, bahwa kehendak dan keinginannya tersebut bukanlah sifat seorang satrya karena memperkosa kebaikan, menerjang kesusilaan. Seorang Putra Mahkota kok ingin merebut istri dari bawahannya, sehingga Nyai Tumenggung mengingatkan Sang Pangeran untuk mengurungkan niatnya.

Mendengar masukan tersebut bukannya menerima, tetapi asmara dan keinginan Sang Pangeran justru semakin menjadi.

Nyai Tumenggung bukan perempuan biasa, yang silau oleh harta dan kedudukan, melainkan perempuan pilihan yang luhur budi pekertinya serta IQ nya pun tinggi diatas rata-rata. Menghadapi hal tersebut tetap tidak mempan dan tetap menjaga keluhuran dan kesucian seorang wanita sehingga terlepas dari perbuatan yang nista.

Dengan lembut dan senyum yang tetap menawan meminta Sang Putra Mahkota untuk membuat semua abdi dalem serta semua orang di Katumenggungan agar tertidur tanpa terkecuali dengan demikian tidak ada orang yang mengetahui apa pun yang dilakukan.

Pangeran Citrasoma bukan seperti orang kebanyakan, tetapi seorang Pengarena yang telah dinobatkan menjadi Putra Mahkota yang kelak dikemudian hari akan menjadi Raja menggantikan ayahandanya. Tidak sulit mengabulkan permintaan tersebut, karena memang sudah mendapatkan banyak ilmu kanuragan, pemerintahan dan lain-lain. Seketika itu pula semua tertidur pulas, bahkan meski ada bom sekalipun tidak akan bangun, bahkan ada yang mimpi mancing dengan strike ikan pelagis yang cukup besar, ada yang mimpi janjian teman yang didapat di jejaring sosial.

Sang Pangeran segera ingin merasakan dan melampiaskan asa yang bergejolak dan berkecamuk didalam dadanya, tetapi keinginan tersebut dicegah oleh Nyai Tumenggung. Dengan senyum dan tutur kata yang lembut Nyai Pamekas menyampaikan, bahwa masih ada yang belum tidur yaitu Sang Pangeran dan dirinya, dan selain itu ada yang tidak pernah tidur yaitu Sang Pencipta, yang menguasai dunia serta isinya termasuk kerajaan Witaradya.

Mendengar ucapan tersebut Sang Putra Mahkota diam seperti patung, dan akhirnya merasakan bahwa perbuatannya salah, dan justru seperti mendapat anugerah, mendapatkan anuegrah dari Sang Maha Mengetahui.

Bukan marah, tetapi Sang Pangeran justru berterimakasih kepada Nyai Tumenggung dan meminta maaf karena telah bertindak yang tidak seperti perilaku seorang pangeran seorang yang nantikan akan menjadi Raja, yang menjadi pelindung bagi masyarakat di negaranya.

Dari kisah dongeng tersebut, kita dapat menarik dan menyimpulkan, maknda dari “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”. Seorang perempuan yang lembut, bisa meluluhkan keangkaramurkaan dengan tidak merasa dikalahkan, tidak pula dengan kecongkakan, tidak pula dengan nafsu tetapi dengan kelembutan.

Bisa disimpulkan pula, bagaiamana apabila seorang yang punya kekuasaan, mempunyai kekuatan untuk menghacurkan tidak terima diberikan masukan, diluruskan jalannya yang nyasar ke jalan yang benar, jalan yang tidak menyengsarakan dirinya dan orang lain. Masalah tidak akan selesai, justru akan semakin tidak menentu. Pangastuti, kebaikan, pribadi yang syukur sehingga tercipta suatu kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, kerta tentrem tur raharja. Bukan api di balas dengan api, tetapi api padam oleh air, oleh kelembutan dan kesejukan.

Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti, semoga marwah dari kalimat tersebut tidak hanya menjadi pengihas tetapi dapat mengilhami penghuni seluruh negeri ini, pempimpin dan yang di pimpin. Pempimpn tidak menghancurkan rakyatnya yang mengingatkan perbuatannya yang tidak benar, yang salah yang melanggar norma kepatutan. End

Disarikan dari berbagai sumber.#Nglarastenan

ASMARA EENG DI TEMPAT TIDUR – OPO TUMON

ilustrasi gbr by googleEeng, 30 tahun. Seorang kepala rumah tangga yang berjibaku menakhlukan dunia untuk menghidupi keluarga dengan pekerjaan membantu para pemancing. Eeng, meski penampilannya sedikit metal, dengan rambut dikuncir dan beberapa tatto ditubuhnya, yang antara lain gambar centong dan disilang dengan sendok. Tampang boleh sangar, tapi hati tetep melo, tetap romantis.

Pada suatu hari, Eeng pulang bekerja diempang dengan badan yang sangat capek, makhlum hari ini ikan banyak makan dan itu membuat aktifitas Eeng lebih banyak. Meski capek, Eeng tetap bahagia, karena rejeki hari ini lumayan, lebih baik dari hari-hari lainnya, dan semua diberikan kepada istri tercinta Maryam.

Maryam adalah istri setia dari Eeng. Maryam yang selisih usianya hanya terpaut 5 tahun tersebut menyambut Eeng dengan senyum bahagia, membuat Eeng hilang capek setelah seharian mencari nafkah.

“Assalamu’alaikum Bunda” Eeng menyapa.

“Wa’alaikum salam Kanda” jawab suara merdu dari dalam rumah.

“Bunda, ini rejeki kita hari ini. Maaf kalau Kanda tidak bisa memberikan rejeki yang banyak. Kanda sebenarnya ingin sekali membahagiakan Bunda” Eeng sambil menghela nafas di kursi kayu yang tanpa busa.

“Kanda, alhamdulillah Kanda sudah pulang dengan selamat dan membawa rejeki untuk makan keluarga, Bunda sudah sangat bersyukur Kanda” sahut Maryam menimpali suaminya.

“Kanda, Bunda sudah siapin air hangat untuk mandi, dan makan malam semoga Kanda suka masakan Bunda” Maryam melanjutkan.

“Terima kasih Bunda” jawab Eeng.

Tak lama kemudian Eeng pun mandi dengan air hangat yang telah disiapkan istri tercinta yang setia dan mencintai apa adanya. Eeng sangat bahagia mempunyai istri yang begitu perhatian. Setelah makan malam Eeng dan istri pergi ke peraduan untuk melepas lelah.

Tidak perlu waktu lama Eeng yang memang lelah cepat memejamkan mata dan tertidur disamping istri tercinta Maryam yang cantik, dengan kulit putih dan pipi kemerahan.

Sekitar jam 01.00 dinihari Eeng terbangun, namun matanya masih terpejam. Eeng merasakan bibirnya seperti ada yang mencium dan mengulumnya. Eeng diam dan menikmati kecupan tersebut, dan ingin menggoda istrinya dengan berpura-prua tidur.

Setelah sekian lama Eeng tidak tahan untuk membuka matanya, tetapi alangkah kagetnya ternyata yang mencium bibirnya bukan istri tetapi lispo / siput ibu jari (sejenis lintah yang biasanya banyak dijumpai pada saat musim hujan), kontan dia loncat dari tempat tidur dan berteriak sakingkagetnya.

Istrinya pun bingung campur kaget, karena tiba-tiba suaminya tidur dan loncat sambil teriak-teriak. Setelah suasana bisa diatasi akhirnya Eeng bercerita pada istrinya, dan istrinya hanya bisa mesam mesem, dan serentak tertawa bareng.

Sejak saat itu Eeng menjadi paranoid dengan lispo, kalau ada pemancing yang memakai umpan lispo pasti dia akan menghindar. Eeng yang bertato centong dengan rambut gondrong takut sama lispo. Ada-ada saja.

Sumber inspirasi cerita:
diambil dari pengalama pemancing yang diceritakan kepada penulis beberapa hari lalu.

PINDAH SEKOLAH

sekolahLama tidak update blog. Masih bisa nulis nggak yah? Mo yang ringan dan santai saja, makanya artikelnya masuk ke ranah humor. Maaf ya, semua hanya fiksi jadi tokoh-tokoh didalam cerita ini hanya khayalan.

PINDAH SEKOLAH

Keluarga Padi Legowo baru saja pindah dari Ibukota Jakarta ke kampung kelahirannya, karena kebetulan permintaan mutasi ke tanah kelahirannya di kabulkan. Padi Legowo yang pegawai negeri sipil di daerah pasar baru mempunyai istri yang jelita bernama Sumiati Legowo (Sum). Dari pernikahan tersebut mempunyai anak dua, anak pertama bernama Utami Legowo, Masih kuliah di Fakultas Hukum jurusan Hukum Karma. Sedangkan yang paling kecil bernama Tedjo Buwono dan duduk dibangku kelas II sekolah dasar.

Keluarga kecil yang penuh kebahagiaan itu tinggal di rumah yang sangat asri, mungil sederhana namun sejuk di selatan kota bengawan. Dengan berbagai pertimbangan, maka sekolah Tedjo yang masih duduk di sekolah dasar harus ikut pindah ikut kedua orang tuanya, sedangkan anak yang tertua tetap tinggal di ibukota dan sementara dititipkan di rumah sahabatnya, Mbah Mo. Sedangkan Sumiati yang notabene adalah penyiar radio top markotop di Ibukota juga ikut pindah mengikuti suaminya ke daerah.

Sumiati yang mudah bergaul pun cepat sekali mendapatkan pekerjaan yang tidak jauh berbeda, yaitu penyiar radio. Kebetulan radio di daerah tersebut membutuhkan penyiar yang kreatif, menarik dengan intonasi suara yang lembut dan enak didengar. Jadilah Sum penyiar radio daerah.

Karena kepiawaiannya membawakan acara Sum pun langsung menjadi idola baru di daerah tempat radio tersebut berada. Suatu hari Sum akan berangkat ke setudio untuk siaran, tetapi tanpa dinyana tanpa diduga, anaknya Tedjo pulang dari sekolah dengan tangisan bombay, bak Temon dalam film G-30 S. Naluri seorang ibu keluar, dan dengan bijak Sumiati menghampiri dan meredakan tangis anaknya dan menginformasikan ke setudio karena telat datang.

Setelah reda, Sum mulai menginterogasi Tedjo anaknya yang masih anak-anak tersebut.

Sum : “Tedjo, kenapa dik pulang-pulang nangis?”.

Tetapi Tedjo yang belum benar-benar hilang rasa sedihnya hanya diam sambil mengusap hidung yang penuh ingus.

Sum : “Adik, kenapa pulang nangis? Ada yang nakalin adik?”

Sum mengulang pertanyaan sambil mengelus buah hatinya dengan penuh kasih sayang.

Tedjo : “enggak, mak”

Jawab Tedjo singkat.

Sum : “Terus adik kenapa, kok pulang-pulang berderai air mata, dimarahi bu Guru?”.

Tedjo : “enggak mak!”

Sum : “Terus kenapa?”

Tanya Sumiati penuh selidik.

Tedjo : “Anu, mak. Tedjo tadi nginjek kotoran ayam, terus aku pegang dengan jari dan aku cium, nah kotorannya nembel di hidung adik!”

Gubrakgkgkqqxxxx, Sum hanya bisa menahan nafas, antara pengen ketawa tapi gengsi dengan anaknya dan pengen marah. end

BELAJAR BERHITUNG

crude-oilKemaren di grup ada yang mengirim tulisan, bahwa BBM kita dengan 6500 masih untung 260 per liter, dengan harga minyak mentah per barrel saat ini di kisaran US$80 (20/11/2014).

Saya yang orang awam dan dari udik terperanjat. Masa sih? #BODO! Jawab sekenanya (#theComment).

Belajar berhitung yuk:
Harga minyak mentah dunia (Crude oil) per barrel – US$80 (eia.gov)
Biaya Pengolahan (rata-rata US) per barrel – US$33.75 (eia.gov)
Biaya distribusi premium– 3% (republika.co.id)

1 barrel = 158.99 (159) liter (metric.convertion.org)
Kurs US $1 = 12.000IDR

Harga minyak mentah 80 ltr x 12.000 IDR = 960.000 IDR
Biaya Pengolahan = 33.75 x 12.000 IDR = 405.000IDR
Sub-total = 1.365.000 IDR
Biaya distribusi = 3,32% x 1.365.000 IDR = 41.334
Total biaya per barrel = 1.365.000 + 40.950 = 1.405.950

Harga BBM Premium per liter= 1.405.950 IDR : 159 = 8.870 IDR

Asumsi itungan wong ndeso dengan melihat harga crude-oil US $80, dan bila Indonesia Crude Price/ICP US $70, maka harga normal BBM ini masih 8.090.

Jadi, logika saya sih dengan harga Crude Oil US $80 masih untung 260 per liter adalah informasi sesat. Kalau mau seperti itu, ya gak usah beli di SPBU, tetapi beli saja minyak mentah sendiri dipengeboran, dan gak perlu lagi di olah langsung pake di kendaraan, selesai. UNTUNG KAN???

Ini bukan itungan pasti, hanya sebagai referensi untuk mengira-ngira harga BBM yang masuk akal apabila sudah siap pake. Tentu dalam trading internasional, apalagi BBM yg import pasti banyak sekali komponenya, termasuk nilai tukar mata uang. BAGAIMANA?

Makanya miara kuda aja, nanti rumputnya di tanam secara hidroponik. Asal tau saja saja, kuda yg berkualitas harganya bisa lebih mahal dari mobil.

Sumber: EIA, Republika, US Metric

FOTOMU MENIPU CINTAKU, SAKITNYA TU DISINI

girls

ilustrasi gbr: mbah google

Kapok rasanya Mas Tedjo menjalin asmara secara konvensional, akhirnya coba-coba untuk mencari peruntungan melalui dunia maya, atau sosial media. Kali ini Mas Tedjo ikut grup pendengar radio streaming online, selain mencari pasangan sekalian dapat mengobati rasa kangen akan kampung halaman, istilahnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Di sosial media Mas Tedjo menggunakan akun dengan nama mtedjo_siganteng sedangkan gebetannya menggunakan nama luv_sumaira_cute. Entah kebetulan atau karena tidak ada nama lain, mantan-mantannya selalu memakai nama Sum, kecuali Nike, tapi memang seperti itu kenyataanya.

Ira, gadis mungil yang hitam manis, pintar, supel, kreatif dan jago nge-dance. Bahkan Ira pernah menjadi juara satu modern dance dikampungnya dari satu kontestan yang mengikuti. Di sosial media, Ira selalu tampil prima dengan foto-foto yang cantik, modis dan dan agun meskipun sedikit terlihat tomboy.

Ira yang pernah menimba ilmu sampai negeri pizza (Itali), terlihat cerdas. Kecerdasan itu bisa dilihat dari tulisan-tulisannya dimedia-media sosial miliknya. Mas Tedjo, yang memang orangnya gampang jatuh cinta pun luluh hatinya akan kecantikan dan kepintaran gadis yang giginya rapi dipasang pagar kawat tersebut.

Sekian lama menjalin kasih melalui dunia maya membuat Mas tedjo semakin penasaran umtuk bertemu sang pujaan hati yang telah lama menghujamkan panah asmaranya. Berbekal alamat yang dikasih Ira melalui inbox di sosial media, Mas Tedjo pun dengan rasa deg deg plas memacu kereta roda dua kebanggannya.

Selepas menghadiri acara reuni sekolah di gedung olah raga Giri Mandala meluncur ke ke arah utara, menyusuri jalan jalan raya. Selepas pasar kota, motornya pun di arahkan ke timur menuju alamat yang di tuju, tetapi sesampai di jembatan jurang gempal pikirannya mulai bimbang, dan akhirnya selepas jembatan Mas Tedjo pun berhenti dipinggir jalan, membuka smartphone merk “Slamet” seri “Lintang Panjer Sore” dan mengirim pesan ke yayang Ira.

“Sayang, bener kan alamatmu prapatan Pokoh ke utara?” tanya Mas Tedjo dalam pesannya.

“Iya, bener mas. Setelah lampu merah nanti Mas Tedjo belok ke kiri yang ke arah Pojok, Klerong ya!” pesan Ira dalam pesan singkatnya.

“Siap honey, nanti kalau sudah dekat aku hubungi lagi” balas Mas Tedjo.

Setelah mendapat kepastian, Mas Tedjo pun meluncur dengan hati yang berbunga-bunga, bersiul dan bernyanyi sepanjang jalan menuju rumah yayang Ira sang pujaan hati. Tidak butuh waktu lama, karena memang jarak antara jembatan jurang gempal dan lampu merah Pokoh tidak jauh.

“Ira, sayang dimana rumahnya? Aku sudah di lampu merah ni!” tanya Mas Tedjo kemudian.

“Belok ke kiri mas, kira-kira 50 meter dari lampu merah ya!” balas Ira sambil memberikan arahan.

“Ok, aku meluncur ya!” balasnya tak sabar.

Mas Tedjo sudah sangat ngebet untuk bertemu kekasih hati yang nemu di dunia maya. Membayangkan wajah segar, senyum manis seorang gadis, entah apalagi sampai habis untuk mendiskripsikan, menggambarkan kecantikan Ira yang dikenalnya lewat sosial media itu.

“Sayang, aku sudah di pertigaan nih, kemana lagi?” tanya kemudian setelah berhenti.

“Pertigaan mana mas?” tanya Ira lembut, selembut bulu ayam peternakan di Wuryantoro.

“In lho, pertigaan ke arah pojok, pertigaan setelah perempatan kalo ke kanan ke lapangan Bantarangin!” Mas Tedjo mencoba menjelaskan.

“O, udah dekat mas. Mas Tedjo masuk aja, kira-kira 30 meter ke depan ada di sebelah kanan mas, nanti masuk saja. Aku di dalam kok, aku lagi goreng krupuk soalnya, takut gosong nih!” balas Ira di ujung telepon.

“Siap, meluncur!” jawab Mas Tedjo sambil menutup smartphone kebanggaannya, karena boleh kredit tuker ayam sekandang.

Tak lama, sampailah rumah yang ditunjukkan Ira melalui telepon atau pesan singkat sebelumnya. Bukan gadis cantik, yang muda belia yang membukakan pintu dan mempersilakan masuk, tetapi seorang perempuan paruh baya, ya usianya sekitar 50 tahun kurang dikitlah.

“Ayo masuk, silakan duduk mas!” suara perempuan tadi dengan lembut.

“Terima kasih tante!” jawab Mas Tedjo.

“Kok panggil tante sih? Panggil saja seperti biasanya kali mas, panggil saja aku Ira” balam perempuan tadi dengan mata genit.

Mas Tedjo mulai dag dig dug derr…. jantungnya mulai berdegup kencang, dari 50 detak per detik lama-lama mulai bertambah sampai 120 detak per detik. Jangan jangan ….. … sekilas, pandangannya menyapu foto-foto yang menghias dinding rumah tersebut, terlihat foto yang tidak asing lagi bagi Mas tedjo, serang gadis memegang trofi kejuaraan lomba modern dance, ada lagi foto gadis manis dengan senyum yang manis dengan rentetan gigi berjejer seperti pagar yang di sulam kawat.

Pikiran, mata, hati mulai tidak sinkron… berkecamuk di dalam dada, karena gadis yang dinanti tidak keluar-keluar juga, sampai akhirnya Mas Tedjo dikagetkan perempuan yang tadi membukakan pintu dengan membawa minuman es asem dari beli ditimur ponten.

“Ada apa mas, kok kelihatan bingung….. heran ya lihat foto-foto saya? Ayo di minum, seger lho ini” tanya perempuan tadi.

“Hmm… aaa… .emmmm…..” balngkemen Mas Tedjo mau bicara apa (blangkemen ki opo cah bahasa Indonesiane? Red.)

Perempuan tersebut sebenarnya masih kelihatan cantik, meski sudah tidak muda lagi, hal itu terlihat dari tulang-tulang pipihnya dan bibirnya yang bak buah manggis mateng di pohon, kalau ibarat artis ya seperti ……., tetap cantik dan singset meski sudah ada guratan perjalanan waktu dan tidak muda lagi dan sedikit beruban.

“Kok heran gitu? Iya mas, itu foto-foto aku waktu aku sekolah dulu, waktu aku awal-awal jadi penyiar radio. Kan aku dulu seneng banget sama nari, sekarang aja nih kalo ada yang nari rabi mau kok” genit menggoda perempuan tadi, yang ternyata Ira yang di kenal Mas Tedjo lewat dunia maya.

Gubrakkkzzkkkkkggg…. ternyata oh ternyata, foto yang ada di sosmed Sumaira adalah foto 24 tahun yang lalu, atau 3 windu. Mas Tedjo pulang dengan wajah sendu, berjalan gontai sambil memegangi dadanya, dan bergumam, “sakitnya tuh di sini!”. end